Kabar

LOMBA  LIPUTAN

 

Dengan mengambil tempat di SMP Dominico Savio pada tanggal 16 Desember 2012 Lomba Liputan yang merupakan program kerja terakhir Wanita Katolik RI Cabang kota Semarang masa bakti 2010-2013 itu dilaksanakan, dengan lomba ini pula akan diketahui segala kegiatan Ranting pada masa bakti tersebut.

“_Kecanggihan Tehnologi sebagai sajian kreasi liputan karya bakti Ranting 2010-2012” demikian tema lomba liputan digelar.

Pukul 07.00 WIB Panitia dan pengurus serta petugas Ranting sudah berdatangan untuk mempersiapkan lomba karena lomba akan dibuka pukul 08.00 WIB. Berbagai kreasi untuk lomba yang berbentuk “hard copy” ditampilkan, ada Ranting yang membuat kliping foto-foto kegiatan, ada yang membawa buku-buku Administrasi ada pula yang menempelkan foto-foto dan digelar sehingga membuat suasana lomba ramai.

Tepat pukul 08.15 WIB acara lomba dibuka dengan doa kemudian menyanyikan lagu Indonesia Raya dan disambung dengan Mars Wanita Katolik RI. Selanjutnya ibu Sukamdiyo selaku Ketua Panitia memberikan laporannya bahwa Lomba Liputan ini diadakan dengan maksud dan tujuan mengajak anggota untuk mau belajar dan mengenal perkembangan teknologi informasi dengan cara belajar mengoperasikan komputer, sehingga nantinya dapat diciptakan anggota-anggota yang ahli dalam teknologi infromasi, karena teknologi informasi ini semakin berkembang dengan kata lain supaya jangan GAPTEK

Ibu Lita selaku Wakil Ketua dalam sambutannya menyatakan syukur dan bangga serta terharu karena dalam lomba Liputan tidak ada satu Rantingpun absen, saya kira bukan takut kena denda, maklum dalam aturan lomba diumumkan yang tidak mengikuti didenda Rp. 350.000,–

Pada kesempatan ini hadir pula 2 ibu dari perwakilan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Semarang yaitu ibu Endang Yunaningsih dan ibu Rostiah, karena lomba ini sebagian dananya mempergunakan dana bantuan  GOW kota Semarang.

Lomba dibuka pada pukul 09.00 WIB oleh Penasehat Organisasi ibu Handajani Tjiptoprajitno yang seterusnya waktu diserahkan kepada 3 Juri untuk menilai.

Dalam lomba liputan ini ada 2 macam materi yang dinilai, yaitu materi dalam bentuk hard copy dan soft copy berupa tayangan. Sebagai juri adalah bapak. YB Dwi Setianto, bapak Juang Saksono dan bapak V. Suparyanto.  Penilaian pertama untuk materi yang berbentuk hard copy dan diberi waktu sampai pukul 12.00 WIB, ketiga juri bekerja marathon untuk menilai 16 Ranting tersebut. Akhirnya tepat pukul 12.00 WIB selesai dan sejenak istirahat untuk makan siang.

Dalam kesempatan ini tidak terduga kedatangan Wartawan dari Jawa Post, selidik punya selidik ternyata bapak juri Juang Saksono yang mengundang karena beliau sangat tertarik dengan lomba liputan tersebut, kemudian Ketua Panitia diwawancarai dan dua peserta lomba difoto untuk isian  di Jawa Post.

Selesai makan siang diteruskan dengan lomba penayangan kegiatan Ranting, panitia sangat  takjub karena Ranting-Ranting begitu pandai dalam pembuatan animasi data, sehingga segala kegiatan di Ranting sangat apik penampilannya, ada yang membuat file per bidang ada yang mulai dengan sejarah Wanita Katolik RI dan masih banyak lainnya yang menarik.

Panitia sangat bangga dengan Ranting Semarang Tengah dimana 2 ibu yang cukup umur yaitu ibu Rita selaku Ketua dengan mengajak satu anggotanya menayangkan kegiatannya dalam layar komputer, demikian pula ibu Saban dari Ranting Semarang Selatan.

Dalam lomba penayangan ini ada 2 Ranting yang absen yaitu Ranting Tugu dan Gunungpati, tetapi dalam lomba hard copy kedua Ranting tersebut ikut.

Pukul 15.00 WIB lomba kedua selesai, juri merekap nilai untuk menentukan siapa yang berhak menjadi Juara I, II dan III. Setengah jam kemudian perekapan nilai selesai dan juri dimohon untuk mengumumkan. Bapak YB. Dwi Setianto yang maju mewakili juri, yang pada intinya beliau kagum karena Wanita Katolik ternyata organisasi yang sangat maju, karena beliau menganggap Wanita Katolik RI seperti  Paguyuban Ibu yang hanya berkutat pada liturgy saja, beliau juga bingung waktu menilai karena semuanya bagus.wkri2

Tetapi akhirnya terpilih Juara I yaitu dari Ranting Banyumanik, juara II Ranting Tembalang dan juara III Ranting Gajahmungkur, selain mendapat hadiah dana pembinaan juga mendapat piala sumbangan dari Plt. Bapak Walikota Semarang.

Dengan lomba liputan ini maka rangkaian kegiatan program kerja Wanita Katolik RI cabang Kota Semarang masa bakti 2010-2013 selesai dilaksanakan, tinggal yang paling akhir sebagai penutup adalah Konferensi Cabang III.

Panitia dan pengurus merasa puas dengan telah selesainya lomba liputan tersebut, semoga untuk kepengurusan berikutnya akan lebih maju.

————————————————————————————————————————————————————————————————————

 

RAPAT  KERJA  2013

 

Pimpinan WKRI Cabang Kota Semarang masa bakti 2013 – 2016 mengajak semua jajaran pengurus beserta Ketua – Ketua Ranting mengadakan Rapat Kerja  tahun 2013 untuk menjabarkan program kerja hasil Konfercab III, bertempat di Aula Yayasan PAK Jl. Dr. Wahidin pada tanggal 2 Februari 2013.

wkri3Rapat Kerja dibuka pada pukul 15.30 WIB, dengan mengmbil bacaan dari Yeremia 1 : 4-5 dan 17-19  perihal Yeremia dipanggil dan diutus, romo Agus Aries membuka acara dengan memberikan pembekalan kepada pengurus, ada 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan kalau menjadi pengurus, yaitu :

  1. Percaya bahwa yang mengutus kita adalah Allah, maka Allah akan membuka jalan bagi kita, janganlah merasa khawatir.
  2. Bekerja karena kehendak Allah, jadi bukan karena kehendak sendiri (memaksakan kehendak sendiri), maka pekerjaan akan berhasil dengan baik.
  3. Carilah kehendak Allah, maka kita akan rendah hati, mau menrima kritik, kehendak Allah itu menyatukan. Buahnya adalah lemah lembut, rendah hati dan suka cita.
  4. Sebagai utusan adalah karena Tuhan, maka Tuhan akan melengkapi, meskipun banyak tantangan tetapi selalu ada harapan yang membuat pengurus selalu bersemangat.

Kemudian dilanjutkan dengan pembekalan ke dua oleh Penasehat Organisasi Ibu Handayani Tjiptoprajitno, memberikan pengarahan tentang Tugas, pokok dan fungsi, dengan harapan dalam Rapat Kerja 2013 akan dapat disusun Program Kerja yang baik, tidak tumpang tindih, karena semua sudah ada acuannya dan pengurus harus bekerja dengan sungguh-sungguh.

Selesai pembekalan oleh Romo Agus dan ibu Yani, acara diskors sebentar untuk makan malam, selanjutnya ibu-ibu dibagi dalam Komisi A, B dan C untuk menyusun program kerja dengan agenda kegiatan kerjanya. Acara tanggal 2 Februari 2013 ditutup pukul 20.00 WIB dan  disambung paginya tanggal 3 Februari mulai jam. 09.00 WIB.

Rapat Kerja hari kedua ditutup pada jam 14,30 dengan menghasilan Agenda Kegitan Kerja tahun 2013 sebagi berikut :

Agenda Kegiatan Kerja wkri cabang kota semarang th. 2013

No.

Hari / Tanggal

 

Kegiatan

Tempat

Waktu

1.

Sabtu  -Minggu02-03 Februari 2013Sabtu – Minggu

23-24 Februari 2013

Raker & pembekalan pengurusRakorda  DPD Yayasan PAKKota Magelang 15.30 – selesai16.00-selesai

2.`

Minggu, 03 Maret 2013 Rapat Pleno Cabang-      Sosialisasi pelatihan pemilih cerdas.-      Sosialisasi Misa Pelantikan pengurus Cabang 2013-2016

-      Sosialisasi Paskah bersama

-      Buletin Percik edisi VI terbit

Rt. Pedurungan 08.00-selesai

3.

Minggu, 7 April 2013 Rapat Pleno Cabang-      Sosialisasi misa HUT-      Sosialisasi penjualan jaket

-      Sosialisasi tugas novena GMKA

-      Kaderisai rutin

-      Paskah bersama

Rt. GajahmungkurRt. Genuk 08.00-selesai

4.

Minggu, 5 Mei 2013Minggu, 12 Mei 2013 Rapat Pleno Cabang-      Pembahasan tugas novena di GMKA-      Sosialisasi lomba mendongeng

-      Sosialisasi Kotak Peduli Papa

Tugas Novena di GMKA

Ranting MijenGMKA 08.00-selesai08.00-selesai

5.

Minggu, 2 Juni 2013Kamis, 27 Juni 2013 Rapat Pleno Cabang-      Sosialisasi pelatihan animasi data-      Sosialisasi criteria penilaian lomba mendongeng

-      Sosialisasi rekoleksi aanggota

Misa HUT 89 WKRI

Rt. Semarang TimurTMP Giri Tunggal 08.00-selesai15.00-selesai

6.

Minggu, 7 Juli 2013Minggu 21 Juli 2013 Rapat Pleno Cabang-      Kaderisasi rutin-      Penerbitan bulletin Percik

-      Pembahasan akhir lomba mendongeng

-      Sosialisasi pelatihan Administrasi

Lomba mendongeng

SDN Wonotingal 09.00-selesai
7. Minggu, 4 Agustus 2013Minggu, 25 Agustus 2013 Rapat Pleno Cabang-         Kaderisasi rutin-         Mengumpulkan daftar peserta Rekoleksi anggota

Pelatihan animasi data

Rt. TuguYayasan PAK 08.00-selesai09.00-selesai

8.

Minggu, 1 September 2013Minggu, 22 September 13 Rapat Pleno Cabang-       Sosialisasi lomba Cerdas Cermat-       Sosialisasi misa akhir tahun

-       Pembahasan akhir pelatihan Adminstrasi

Pelatihan Administrasi

Rt. BanyumanikMenyususl 08.00-selesai09.00-selesai

9.

Minggu, 6 Oktober 2013 Rapat Pleno Cabang-       Kaderisasi rutin-       Pembahasan akhir Rekoleksi Anggota Rt.Semarang Utara 08.00-selesai

10.

Minggu, 3 November 2013Kamis, 22 November 2013 Rapat Pleno Cabang-      Lomba pemanfaatan limbah-      Pembahasan kriteria penilaian lomba cerdas cermat

Misa akhir tahun

Rt. GunungpatiRt. Tembalang(Gereja St. Petrus Sambiroto) 0800-selesai16.30-selesai

11.

Minggu, 1 Desember 2013Minggu 15 Desember 2013 Rapat Pleno Cabang-      Kaderissi Rutin-      Pembahasan akhir lomba cerdas cermat

Lomba Cerdas Cermat

Rt. NgaliyanSMA Karangturi 08.00-selesai09.00-selesai

12.

Minggu, 5 Januari 2013 Raker dan pembekalan pengurus Cabang dan rapat pleno Cabang-      Penerbitan bulletin Percik Wisma Nasareth 09.00-selesai

Demikian sebagian hasil Rapat Kerja 2013, sudah disusun dan dibicarakan bersama, maka harus dilaksanakan pula dengan bersama dan sebaik-baiknya, semoga Rapat Kerja tahun 2013 yang merupakan kerja pengurus periode 2013-2016 paling awal akan menambah dan memacu semangat kerja.   TUHAN MEMBERKAHI.

——————————————————————————————– 

HASIL SIDANG TIM PERUMUS KONFERCAB III

WANITA KATOLIK R.I. CABANG KOTA SEMARANG

  1. Konfercab III sah dilaksanakan, berdasarkan Quorum lebih dari 2/3 peserta hadir:
    1. Undangan : 89 orang
    2. Hadir         : 79 orang
  2. Susunan Acara dapat diterima.
  3. Rancangan Tata Tertib dapat diterima menjadi  Tata Tertib.
  4. Hasil Sidang Komisi

Komisi A

Bidang Organisasi:

  1. Pemecahan Masalah Organisasi & Tertib Organisasi:
    1. Mensosialisasikan AD/ART
    2. Mewujudkan & melaksanakan hasil Konfercab III
    3. Melanjutkan Kaderisasi
    4. Pendataan Anggota
    5. Wawanhati
    6. Iuran Anggota

Sekretariat

  1. Tertib Organisasi:

Sosialisai Pedoman Administrasi

  1. Penilaian Kinerja Pengurus & Anggota

Bendahara

  1. Menghimpun dana Masuk
  2. Tertib Administrasi Keuangan

KOMISI B

  1. Bidang Kesejahteraan
    1. Peningkatan penyegaran dan pembinaan iman bagi pengurus, anggota dan keluarga
    2. Meningkatkan Karya Pelayanan
    3. Meningkatkan Kesadaran dan pengetahuan tentang budaya hidup sehat
  1. Bidang Usaha

Penggalangan Usaha Dana untuk menghidupi organisasi yang sifatnya tidak mengikat dan tidak ditentukan target.

KOMISI C

  1. Bidang Humas
    1. Peningkatan Informasi kesegenap anggota dan masyarakat
      1. Dialog antar Cabang dan Ranting
      2.  Menyebarluaskan informasi kegiatan melalui berbagai media
      3. Temu Kangen antar anggota WKRI
      4. Mendokumentasikan semua kegiatan yang sudah dilaksanakan
      5. Membina  dan meningkatkan jejaring dengan berbagai pihak
    2. Bidang Pendidikan
    •  Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan
    • Kontak Ilmu

TIM VERIFIKASI

  1. Dengan berbagai revisi, laporan keuangan bisa diterima dengan catatan supaya kedepan lebih ditertibkan lagi.
  2. Penghapusan Piutang pada KSP Karya Putra Utama sesuai berita acara tanggal 8 Januari 2012 No: 01/BA/KEU/DPC/2012 sejumlah Rp 29.485.541.,- . Bukti Berita acara akan dilampirkan pada buku hasil Konfercab III tahun 2013, dan piutang sebesar tersebut di atas siap untuk ditinjau kembali.

PANITIA PEMILIHAN

Telah terpilih:

Nama                                                                                     Dengan Suara

Ch. Budhi Adhiani Sentot Suciarto                                  77

A Sri Ananingsih Among                                                      8

Th Endang Sispralita                                                             7

TIM PELANTIKAN

            Pelantikan dilaksanakan oleh Presedium DPD Jawa Tengah dalam Misa yang dipimpin oleh Rm. F.X. Sukendar Wignyosumarta, Pr, Vikjen Keuskupan Agung Semarang sebagai Penasehat Rohani WKRI Cab Kota Semarang. Serah terima jabatan dilaksanakan dalam Misa tersebut.Konfercab IV akan dilaksanakan tahun 2016.

Hasil-hasil Sidang Komisi dan tim merupakan lampiran dan bagian yang tidak terpisah dari Hasil SidangTim Perumus. Demikian hasil sidang tim perumus Konfercab III Wanita Katolik R.I. Cabang Kota Semarang.

                                                                                               Bandungan, 13 Januari 2013                                                                                  Ketua:                                                                                               Sekretaris;
Ttd                                                                                                           Ttd
Helena Ningsih                                                                               Hermin Totok

 

——————————————————————————————–

HASIL SIDANG KOMISI PROGRAM KERJA

KONFERENSI CABANG III

 

Konfercab III telah selesai, dengan menghasilkan Program Kerja untuk masa bakti 2013 – 2016 yang harus dilaksanakan, program kerja tersebut merupakan hasil kesepakatan semua komisi dan  telah diplenokan, sebagai berikut :

                                                                                                              

SEKRETARIS

  1. Tertib Administrasi.

-       Mensosialisasikan pedoman Administrasi ke semua Ranting.

-       Mengadakan pelatihan penyusunan administrasi kepada semua Ranting.

-       Melaksanakan administrasi yang tertib, antara lain : pengiriman dan pengarsipan surat, membuat laporan berkala, membuat laporan kegiatan, mencatat dan menyimpan semua inventaris.

  1. Mengadakan penilaian terhadap kinerja pengurus/anggota, mengadakan evaluasi dan lomba administrsi.

Mengadakan pelatihan sebelum dilaksanakan lomba dan disosialisasikan lebih awal.

BENDAHARA

  1. Menghimpun dana masuk

-        Menghimpun iuran anggota, dana APP, dana aksi telur, dana HPS, kotak peduli papa dan dana abadi.

-       Menghimpun bantuan dana/sumbangan yang tidak mengikat dan tidak membebni Ranting maupun Pengurus Cabang untuk kegiatan organisasi.

  1. Membukukan uang masuk dan keluar.

-         Melaksanakan administrasi keuangan secara rapi dan transparan.

-         Meningkatkan mekanisme pengeluaran uang organisasi secara transparan melaui satu pintu dan dipetrtanggungjawabkan.

-         Pengadaan blanko-blanko kuitansi khusus dan buku kas.

  1. Mempertangungjawabkan keuangan.

Membuat laporan keuangan : laporan bulanan, semesteran dan tahunan.

BIDANG ORGANISASI

Tertib Orgnisasi

  1. Mensosialisasikan AD/ART hasil keputusan Kongres XVIII sampai ke tingkat yang paling bawah.
  2. Mewujudkan dan melaksanakan hasil Konfercab  III Cabang yang tertuang dalam program kerja tahun 2013-2016.
  3. Melanjutkan kaderisasi ke tingkat yang lebih tinggi (berjenjang dalam satu periode).

Catatan : bila dibutuhkan atau diminta Ranting, dapat juga dilaksanakan/diadakan untuk tingkat dasar dan tingkat pratama.

  1. Membenahi dan melanjutkan pendataan anggota.

Catatan : melaporkan bila ada anggota yang baru, meninggal atau pindah

  1. Wawanhati ke Ranting-Ranting dan terjadwal

Tujuan : mewujudkan hubungan yang harmonis antar Ranting dan Cabang, serta menyelesakan masalah yang ada di setiap Ranting sehingga menjadi satu kata dengan Cabang di setiap langkah.

  1. Perubahan iuran anggota sebagai berikut :

-       Iuaran anggota Rp. 100,- (aktif dan tidak aktif).

-       Iuran anggota aktif ditambah, yang dulu Rp. 700,- menjadi Rp. 750,- (dengan rincian : Konferda Rp. 150,-, YDI dulu Rp. 50,- menjadi Rp. 100,-,,, Sosial DPD Rp. 100,-, Sosial Cabang Rp. 150,-, Konfercab Rp. 150.-, Kongres Rp. 100,-).

HASIL SIDANG KOMISI B

A. BIDANG KESEJAHTERAAN

  1. Peningkatkan penyegaran dan pembinaan iman bagi pengurus, anggota dan keluarga

-       Misa awal tahun (Januari), misa Padamu Negeri (Agustus)/misa Setia bakti Kotaku (Mei), misa Akhir tahun/Arwah (November)

-       Rekoleksi seluruh anggota  dan meniadakan Anjang sana  terpadu.

-       Selalu ada renungan sabda Tuhan setiap petemuan di Pleno. Petugas dari ranting dengan waktu 10 menit.

-       Ibadat/Misa HUT Wanita Katolik RI dilaksanakan bulan Juni. Tempat tidak harus di cungkup Mgr. Soegijapranata (TMP Giri Tunggal).

  1. Peningkatan karya pelayanan bagi masyarakat dan anggota

-       Upaya peningkatan kesehatan bagi Balita gizi buruk tetap dilaksanakan di ranting – ranting. Program ini merupakan program lanjutan.

-       Pengumpulan dana kotak “Peduli Papa” tetap dilaksanakan dalam pleno cabang setiap bulan

-       Perhatian kepada Seminaris, KLMT dan anak- anak yang membutuhkan perhatian dengan pengumpulan dana APP (April), dana Aksi telur (Juli), dan dana Hari Pangan Sedunia (Oktober), dana sehari peduli anak  tidak ditarik iuran khusus dari anggota.

-       Mengadakan kunjungan kasih kepada mantan pengurus atau aktifis Wanita Katolik RI/ lansia setahun sekali pada peringatan HUT WKRI.

-       Pemeriksaan kesehatan/cek laborat murah secara rutin 1 tahun sekali bagi anggota.

-       Kunjungan antar Cabang Se-Jateng dengan melibatkan Ranting 1 kali dalam satu periode kepengurusan (3 tahun sekali).

  1. Peningkatan kesadaran dan pengetahuan anggota tentang kesehatan dan budaya sayang kehidupan

-       Penyuluhan kesehatan yang sedang trend dan obat herbal.

-       Penghijauan lingkungan ( misal : penanaman TOGA, penanaman pohon keras ) bekerjasama dengan PKK / Instansi terkait / Kaum muda

B. BIDANG USAHA

  1. Mencari dana untuk menunjang kehidupan organisasi, baik yang sifatnya rutin atau insidentil

-     Penjualan rangsang hadir, dilaksanakan pada Rapat Pleno setiap bulan

-     Penjualan AD/ART, Lencana dan Atribut Wanita Katolik RI lainnya di setiap kesempatan yang memungkinkan.

-     Penjualan Payung atau jaket Wanita Katolik RI ke anggota dengan sifat tidak mengikat/tidak ditentukan targetnya.

  1. Bersama dengan Bendahara dan Bidang Organisasi

-     Mmenghimpun dana dari anggota melalui ranting dalam bentuk Iuran anggota (aktif dan terdaftar )

-     Menghimpun iuran anggota dari anggota aktif dan terdaftar yang dilaksanakan pada Rapat Pleno setiap bulan. Diusulkan adanya perubahan iuran anggota.

-     Menghimpun dana APP ( April ), Dana Aksi telur ( Juli ), dana Hari Pangan Sedunia ( Oktober ) dan Kotak peduli papa

-     Penggalangan dana dengan mengadakan Pentas Seni bekerjasama dengan WO Ngesti Pandowo, dengan melibatkan Hirarki Gereja dan keluarga atau anggota WKRI yang mempunyai jiwa seni.

 

HASIL  SIDANG KOMISI  C

 

BIDANG HUMAS.

 

  1. Menyebarluaskan informasi tentang cita-cita dan tujuan Wanita Katolik RI serta kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan kepada anggota dan masyarakat.

-       Dialog antara  Cabang dan Ranting di berbagai kesempatan, lewat Pleno , Wawan hati dan penerbitan buletin Percik tetap setahun 2 kali, untuk itu Ranting dimohon berpartisipasi dalam pengiriman artikelnya. Promosi pengiriman artikel supaya ditingkatkan.

-       Menyebarluaskan informasi kegiatan yang sifatnya besar dan umum melalui media cetak dan elektronik  misalnya ke radio KISS, Gajahmada.

-       Temu kangen yang melibatkan semua anggota Wanita Katolik RI se kota Semarang, misalnya misa, rekoleksi.

  1. Menyelenggarakan dan memelihara dokumen organisasi.

Mendokumentasikan semua kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam bentuk foto dan CD maupun flash disk.

  1. Membina dan meningkatkan jejaring dengan Instansi Pemerintah, Organisasi/Lembaga lain dan Hirarki.

-       Mengirimkan pengurus Cabang untuk menjadi pengurus di GOW, Kevikepan, GOPTKI dan Petamas.

-       Menanggapi, menindaklanjuti serta menjalin kerjasama dengan pihak lain.

BIDANG PENDIDIKAN

 

  1. Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pengurus, anggota serta masyarakat

-     Mengadakan Kontak Ilmu yang dilakukan saat Rapat Pleno oleh Ranting yang ketempatan

-     Mengadakan lomba-lomba dengan materi yang bersifat umum, variatif dan dapat meningkatkan income yaitu Lomba Pidato, Lomba Memasak dan Lomba Mendongeng

-     Membuat jarit menjadi wiron tanpa digunting

  1. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pengurus, anggota dan masyarakat

-       Mengadakan ceramah/seminar/kursus-kursus ketrampilan untuk anggota dan masyarakat yaitu ketrampilan memanfaatkan limbah bekerjasama dengan Dinas PU Sebagai instansi terkait, kursus tatarias pengantin bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, kursus merangkai bunga bekerjasama dengan dekor manten, serta kursus IT untuk anggota Wanita Katolik RI bekerjasama dengan PT Telkom sebagai narasumber. Sasaran kursus bagi masyarakat umum adalah kaum muda drop out usia 18 – 35 tahun, yang diharapkan dapat mandiri Sebagai pekerja produktif setelah mengikuti kursus ketrampilan.

-       Mengadakan seminar kepemimpinan / leadership untuk kaum muda.

-       Pelatihan menjadi pemilih yang cerdas.

Demikian hasil Sidang Komisi Program Kerja tahun 2013 – 2016.

Semoga dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

 

———————————-———————————–———————–

KUNJUNGAN KASIH KE 2 DI PANTI WREDA RINDANG KASIH II

Jumat Kliwon itulah hari yang aku ingat saat kami bertiga ,.Ibu Sentot, Ibu Krisnu dan saya sendiri mewakili Pengurus Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang melakukan kunjungan kasih ke 2  untuk menyerahkan Dana  sebesar Rp 2.000.000,- ke Panti Wreda Rindang Kasih II di Jl. Dr.Ismangil No.16 Bongsari Semarang. Karena  Kunjungan Kasih I Dana Aksi Telur sudah diterimakan di Seminari Mertoyudan sebesar Rp 3.000.000,-. Kami diterima Ibu Theresiana Nanik bertugas sebagai perawat karena kebetulan Pengurus Yayasan sedang tidak ada di tempat. Puji Tuhan cuaca pada saat itu sangat cerah sekali padahal dalam beberapa hari setiap sore selalu hujan dengan derasnya.

WKRI4

Panti Wreda ini dibawah naungan Yayasan Sosial Soegijapranata. Kami diberi penjelasan bahwa penghuni Panti semua ada 32 orang terdiri dari 13 bapak dan 19 Ibu, kenapa hanya 32 karena  kapasitas panti hanya bias menampung 32 orang saja. Sedangkan karyawan ada 7  Perawat, 1 tenaga kebersihan, 1 penjaga malam, 3 Pengurus , 1 tenaga masak. 1 tenaga mencuci ,dan 1 pembantu umun  jadi semua karyawan ada 15 orang. Tenaga perawat bertugas secara berganti pagi hari 1 dan siang hari masing-masing 1 orang untuk malam hari 2 orang. Setiap 2 minggu sekali ada Dokter yang bertugas dari Balai Pengobatan Randusari datang untuk memeriksa. Saya meminta ijin untuk berkeliling melihat-lihat suasana dan yang membuat hati saya tersentuh ada seorang ibu yang menyapa : “ Selamat sore ibu, dari Wanita Katolik ya……..dulu saya juga anggota Wanita Katolik  seragam saya masih saya simpan lo….. “.       Ya Tuhan ibu itu masih mengingat saat menjadi angguta WKRI dan namanya Ibu Elen, dulu bertempat tinggal di Genuk Indah Blok I / 52 belakang pasar. Hallo….Ibu-ibu anggota WKRI ada salah satu penghuni panti yang titip salam buat kita semua khusunya Ranting Genuk . Beliau bercerita bahwa dia hidup sendiri dan tidak menikah akhirnya rumah dijual dan ditabung kemudian tinggal di Panti.

 Saat kami menyapa ibu – ibu penghuni yang lain ada ibu yang menyapa sambil mengulurkan tangannya nama saya “Helena” saya dulu ikut Bruder Servatius dan bekerja di SIBA. WkWkWk……….belum ditanya Ibu Helena sudah bercerita . Ibu Helena menjadi penghuni panti karena suami sudah meninggal dan anaknya juga meninggal saat masih kecil. Sambil menerawang dia bercerita: Dulu saat saya masih bekerja saya selalu membantu saudara-saudara saya tapi sekarang saya tidak mau merepotkan mereka dan tidak ada satupun saudara saya yang tau bahwa saya ada dipanti ini. Ya Tuhan……….demikian kuat dan tegar beliau menjalani kehidupannya dengan kondisi seperti itu. Sebetulnya masih banyak yang akan diceritakan kepada kami namun karena waktu kami yang terbatas akhirnya kami minta pamit kepada semua Penghuni Panti. Mereka serentak “ Terimakasih atas kunjungannya jangan lupakan kami ”. Itulah pesan mereka yang masih bisa diajak komunikasi.

 

———————————————————————————–———

88 TAHUN WKRI : MENJADI IBU DARI SEMUA IBU

Sudahkah pembaca menonton film “Soegija” ? Bagi saya ada satu adegan yang cukup menyentuh dalam film tersebut. Adegan itu adalah ketika Ling Ling – seorang gadis keturunan China yang kehilangan ibunya karena dibawa tentara Jepang – berdoa di depan Bunda Maria ditemani Mariyem seorang perawat. Ling ling bertanya kepada Mariyem apakah berdoa lewat perantaraan Maria pasti dikabulkan, jawaban Mariyem ketika itu : Pasti akan dikabulkan karena Maria adalah ibu dari semua ibu.  Tak lama kemudian Ling ling bisa bertemu dengan ibunya.

Atas inspirasi dari kata-katanya sendiri, Mariyem kemudian berani menghadapi Robert serdadu Belanda ketika hendak menggeledah apakah ada gerilyawan yang dirawat bersama dengan masyarakat yang terluka akibat perang. Mariyem berkata kepada Robert bahwa ia adalah ibu dari semua ibu yang bertugas melayani, merawat, dan melindungi mereka yang terluka di situ. Tak ada gerilyawan di situ – kata Mariyem lagi –  yang ada adalah sesama penderita.

Ibu Maria sebagai ibu dari semua ibu kiranya pantas dijadikan inspirasi untuk gerakan di segala bidang dari Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) yang memperingati HUT nya yang ke-88. Tema  yang diangkat di tingkat pusat untuk memperingati HUT WKRI yang ke – 88 adalah ”Meniadakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Masyarakat melalui Gerakan Budaya Nilai dan Lingkungan Hidup”, sedangkan tema HUT di tingkat Cabang Kota Semarang adalah ”88 Tahun Perjuangan Mulia dalam Berbagi dan Mewartakan Kasih Melalui Pelayanan Terhadap Sesama”. Kiranya kedua tema itu saling berkaitan dan mirip sehingga pantaslah dalam mendalami dan mengaktualkan tema tersebut ibu-ibu anggota WKRI  meneladan sikap Maria yang merupakan ibu dari semua ibu yang senantiasa mau melindungi, mengasihi dan menolong mereka yang mengalami kekerasan dan mereka yang Kecil, Lemah, Miskin, dan Tersingkir (KLMT).

Penekanan tema HUT ke-88 WKRI Pusat terhadap perlunya WKRI berpartisipasi dalam menanggulangi kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat melalui gerakan Budaya nilai dan lingkungan hidup sangatlah tepat.  Data yang dicatat oleh Mitra Perempuan Women’s Crisis Centre tahun 2011 lalu ada 209 kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh Ibu dan anak-anak sebagaimana dilarang dalam Undang-undang Nomer 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumahtangga. Dari kurban tersebut yang merupakan ibu rumahtangga,  82,30 persen mengalami kekerasan yang dilakukan oleh suami dan mantan suaminya. Di samping ibu rumah tangga, kurban adalah anak-anak perempuan yang berusia 18 tahun ke bawah. Dampak kekerasan pada mereka cukup ”mengerikan” yaitu gangguan kesehatan mental, kesehatan fisik, dan kesehatan reproduksinya.

Kekerasan dalam keluarga maupun masyarakat memang bisa disebabkan oleh 2 (dua) hal yaitu nilai-nilai kekerasan dan juga rusaknya lingkungan hidup. Budaya nilai yang tertanam dalam masyarakat adalah budaya ”kelelakian” (maskulin) yang syarat dengan kekerasan. Maka WKRI memang ditantang untuk memberikan nilai-nilai ”keibuan” (feminim) dalam segala segi kehidupan (misal dalam organisasi dan kemimpinan) sehingga kekerasan dalam rumah tangga dan masyarakat bisa dikurangi dan syukur bisa sama sekali. Lingkungan hidup yang rusak yang menyebabkan perubahan iklim sehingga lingkungan menjadi gersang, panas, dan tidak layak huni juga menyebabkan perilaku agresif masyarakat dan melahirkan budaya kekerasan. Sumbangan sederhana ibu-ibu WKRI untuk menanami lingkungannya dengan berbagai pohon akan mengurangi kekerasan dalam masyarakat dan keluarga.

Terkait dengan tema dari WKRI Cabang Semarang yaitu ”88 Tahun Perjuangan Mulia dalam Berbagi dan Mewartakan Kasih Melalui Pelayanan Terhadap Sesama” saya kira sudah diwujudkan secara nyata dalam berbagai program seperti pemberian bea siswa kepada murid yang tidak mampu, program membantu balita yang kekurangan gizi, dan lain-lain.

Dengan kegiatan-kegiatan yang telah dan akan dilakukan yang sesuai tema ulangtahun WKRI Pusat dan Cabang Semarang, maka WKRI sebenarnya juga telah mewujudkan teladan Maria sebagai ibu dari semua ibu dan juga mewujudkan anjuran Mgr Albertus Soegijapranata SJ – yang juga muncul di film ”Soegija” – bahwa kita adalah 100 persen Katolik dan 100 persen Indonesia.

(Nugroho SBM, Staf Pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip, Semarang)

 HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT YANG MANJUR TETAPI

SEMANGAT YANG PATAH MENGERINGKAN TULANG

 

Kepedulian Wanita Katolik RI menyentuh selurus insan baik itu insan yang baru dilahirkan, anak-anak, remaja, dewasa dan tak ketinggalan para usia lanjut.

Kepedulian untuk para usia lanjut diwujudkan dalam penyuluhan yang bertema “Indahnya Hidup Sehat dan Jiwa Bersemangat di Usia Lanjut”. Penyuluhan yang disajikan oleh dr. Hadi Kurniawan Sp RM dari Rumah Sakit Pantiwilasa Dr. Cipto ini dihadiri oleh 70 ibu perwakilan dari 16 Ranting yang usianya sudah tidak muda lagi ditambah dengan ibu-ibu pengurus Cabang dan anggota ranting Gayamsari. Penyuluhan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Mei 2012 bertempat di ranting Gayamsari tepatnya di Aula Kantor Kecamatan bersamaan dengan pleno Wanita Katolik RI cabang kota Semarang.

Suasana penyuluhan saat itu sangat gayeng dan menarik banyak peserta, karena materi penyuluhan itu mengatasi nyeri sendi pada osteoartritis sangat relevan dengan kehidupan ibu-ibu. Bagi ibu-ibu yang belum mendapat kesempatan untuk mengikuti penyuluhan kesehatan, jangan khawatir, sedikit informasi hasil penyuluhan kami sajikan dalam buletin edisi kali ini.

Apabila kita merasa nyeri pada lutut dan sampai berkelanjutan, sendi kaku hingga bengkak dan sukar digerakkan maka kita harus waspada karena itu merupakan gejala Osteoartritis salah satu penyebab nyeri sendi. Perlu kita ketahui bahwa penyebab nyeri sendi selain Osteoartritis adalah Trauma/cedera, radang pada sendi, radang di luar sendi, infeksi, asam urat, patah, tumor dan nyeri rujukan. Orang yang mengalami Osteoartritis akan berdampak kecacatan, disabilitas atau ketidak mampuan (berjalan, memegang) penurunan kualitas hidup, meningkatnya beban ekonomi, gangguan psikologis (stress, depresi).

Terapi bagi penderita Osteoartritis meliputi :

  1. Pemberian obat-obatan
  2. Fisioterapi : suatu upaya terapi/pengobatan fisik dengan menggunakan unsur-unsur alamiah seperti : panas, dingin, arus listrik, sinar dan latihan.

Tujuannya : menghilangkan atau mengurangi rasa sakit, mencegah dan mengoreksi kecacatan, memperbaiki sirkulasi darah, memulihkan mobilitas dan koordinasi sendi serta kekuatan otot

Protreksi sendi bertujuan mencegah kerusakan sendi : sendi yang sakit diistirahatkan, menjaga berat badan tetap ideal, pemakaian alat bantu, berobat dengan patuh dan perubahan gaya hidup.

  1. Pembedahan.

Untuk mencegah Osteoartritis orang harus berani mengadakan Perubahan Gaya Hidup dengan :

  1. Hindari Stress
  2. Cukup istirahat
  3. Kurangi berat badan
  4. Gunakan closet duduk
  5. Jangan angkat beban berat
  6. Jangan gunakan sepatu berhak tinggi
  7. Jaga sendi agar tetap hangat

Perubahan gaya hidup untuk atasi nyeri sendi :

  1. Makan makanan rendah kalori dan berserat tinggi (sayur dan buah)
  2. Hindari “JAS – BUKET” (Jeroan, alcohol, sarden, burung dara, unggas, kaldu, emping dan tape)
  3. Hindari makanan berkalori dan berlemak tinggi
  4. Perbanyak minum air putih
  5. Hindari rokok.

Penyuluhan ditutup oleh dr. Hadi Kurniawn Sp RM dengan mengutip ayat Amsal 17 : 22

HATI YANG GEMBIRA ADALAH OBAT YANG MANJUR TETAPI SEMANGAT YANG PATAH MENGERINGKAN TULANG.

Kalimat di atas adalah kalimat yang sangat tepat dan bijak untuk mengingatkan kita agar kita merawat tubuh kita, karena tubuh kita merupakan anugerah terindah dari Allah.

  

JADWAL PERINGATAN HUT KE 188

WANITA KATOLIK R.I CABANG KOTA SEMARANG

 

Hari                 :           Kamis, 28 Jun 2012

Tempat            :           Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang

Tema               :           88 Tahun Perjuangan Mulia dalam Berbagi dan Mewartakan Kasih melalui

Pelayanan terhadap Sesama.

Misa                :           Dipimpin Romo Albertus Agus Ariestiyanto, MSF

No.

WAKTU

URAIAN KEGIATAN

PETUGAS

1.

14.30  – 15.00 Persiapan Upacara

Bertempat di halaman pintu gerbang TMPSeksi Acara

2.

15.00  – 15.30UpacaraPetugas Upacara

3.

15.30  –  16.00Tabur BungaMasing-masing Ranting

4.

16.00  –  16.30Rosario HidupRanting yang bertugas

5.

16.30  –  SelesaiM i s aSeksi Liturgi


PLENO  AWAL TAHUN

Saat natalan tersebut dirasakan sekali kebersamaannya  oleh anggota Wanita Katolik RI ranting Pedurungan, karena dalam pertemuan rutin yang diadakan  ranting Pedurungan anggota yang hadir dapat dikatakan kembang – kempis, tetapi dengan Kelahiran Kristus dapat menumbuhkan semangat ibu-ibu Wanita Katolik RI ranting Pedurungan dalam berkarya di ladang Tuhan, bahkan sejak saat itu hingga kini setiap pertemuan rutin bulanan anggotanya makin terus bertambah.Selamat bertemu lagi melalui coretan tinta sahabatku, Natal memang sudah berlalu tetapi makna Natal tidak akan pernah berlalu sampai kapanpun. Pada tanggal 08 Januari 2012 bertempat di Balai Kecamatan Pedurungan, Ranting Pedurungan menerima tugas ketempatan pleno Cabang sekaligus Natalan dengan mengadakan ibadat singkat bersama ibu-ibu pengurus Wanita Katolik dari 16 Ranting yang ada di kota Semarang.  Ibadat singkat yang dipandu oleh ibu Wenny sangat mengesan sekali dengan mengambil bacaan dari Yesaya 60 : 1-6  yaitu tentang Kemuliaan Tuhan Terbit Atasmu dan Injil Matius 2 : 1-12 tentang Orang-orang Majus dari Timur, dimana diuraikan bahwa mereka datang atas petunjuk dari bintang yang telah terlihat di ufuk Timur, dimana bintang itu sebagai lambang dan simbol yang menjadi menjadi petunjuk untuk sampai kepada tujuan, pada tanggal 08 Januari 2012 bersamaan pula dengan hari raya penmpakan Tuhan, dimana penampakan itu tidak aneh lagi bagi kita, karena kita mengalami sehari-hari apabila kita mengamininya dengan kehadirannya.

Setelah ibadat Natal dilanjutkan dengan Rapat Pleno dan ini merupakan pleno  pertama di awal tahun 2012. Dalam pleno tersebut hadir ibu Garningsih Kepala Seksi Kesra kecamatan Pedurungan yang mewakili bapak Camat. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa dengan adanya pleno bulanan ini, maka informasi dari pemerintahan dapat ditampung dan diteruskan kepada anggota Wanita Katolik RI, seperti dalam kegiatan menangani masalah monitoring balita gizi buruk dan dengan adanya Sapta Program dari Bapak Walikota maka diharapkan sekali Wanita Katolik RI juga menanggapi dan beliau sangat percaya atas kerjasamanya selama ini.

Dalam kesempatan ini ibu Sentot selaku Ketua Cabang juga mengingatkan  kembali akan program kerja yang tahun 2012 yang telah disahkan pada Desember 2011, bahwa untuk tahun ini kegiatan difokuskan pada persiapan Konfercab III meskipun baru akan dilaksanakan pada Januari 2013, yang jelas tidak akan membuat proposal banyak, cukup satu saja.

Pleno cabang kali ini diselingi dengan makan bersama nasi liwet yang telah disiapkan oleh Ranting Pedurungan dan diakhiri dengan kontak ilmu oleh Ketua Ranting Pedurungan dengan topik manfaat belimbing wuluh untuk memelihara rambut dan air leri (cucian beras) untuk membersihkan muka.


WAWANHATI PENGURUS GABUNGAN

ORGANISASI WANITA (GOW) KOTA SEMARANG

 

Suasana meriah dan penuh dengan kekeluargaan sangat dirasakan oleh pengurus Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang dalam menerima kunjungan pengurus Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Semarang, ini merupakan program kerja Cabang tahun 2012 menyesuaikan dengan program kerja GOW kota Semarang perihal monitoring ke organisasi anggota.

Sengaja dipilih hari Jum’at  tanggal 03 Februari 2012 bertempat di Ruang Pertemuan Atas Katedral, karena hari Jum’at adalah hari pendek sehingga pengurus dan ketua Ranting yang sebagian besar bekerja di sektor formal bisa hanya meminta ijin sebentar untuk meninggalkan tugasnya, maklum hari aktif kerja pengurus GOW kota Semarang adalah hari Senin sampai dengan Jum’at dan kegiatan inipun dimulai pukul 13.00 WIB.

Acara dimulai terlebih dahulu dengan makan siang yang telah disediakan oleh Ranting Semarang Selatan dan Ranting Semarang Tengah sebagai panitia, dengan nasi soto serta kelengkapannya yang dimasak oleh ibu Saban membuat semua yang hadir lahap untuk menyantapnya, karena memang jam makan siang.

Selesai makan kemudian sekretaris membuka acara secara resmi dengan mengucapkan selamat datang, kemudian acara sepenuhnya diserahkan kepada Ketua Cabang.

Ibu Sentot dengan lincahnya melaporkan semua kegiatan Cabang mulai Januari 2010 sampai dengan Desember 2011 dalam paparan yang menarik, dimulai kegiatan tahun 2010 waktu beliau terpilih sebagai Ketua Cabang dalam Konferensi Cabang II, pelantikan pengurus, pembelajaran menjadi pemilh cerdas di Aula SMP Yohanes, misa HUT Wanita Katolik RI di Makam Pahlawan dan penerbitan bulletin “Percik” dan misa akhir tahun 2010 di Gereja Sampangan.  Kemudian dilanjutkan misa awal tahun 2011, kegiatan pleno Cabang, Misa Hari Ulang Tahun Kota Semarang di Balai Kota, Jumpa Semesta dan Sesama dan ditutup dengan misa akhir tahun 2011 bertempat di Gereja St. Ignatius Krapyak.

Dari semua kegiatan yang telah dipaparkan tersebut Ibu Sentot mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dana APBD dari Kota Semarang yang telah diberikan melalui Gabungan Organisasi Wanita Kota Semarang karena sangat bermanfaat dan beliau berharap semoga bantuan yang akan datang lebih besar lagi karena kegiatan Cabang memang banyak.

Pengurus Gabungan Organisasi Wanita Kota Semarang yang diwakili oleh ibu Endang Yunaningsih selaku Wakil Ketua II menanggapi bahwa kegiatan Wanita Katolik RI cabang Kota Semarang sangat bagus dan cukup banyak sehingga GOW sangat percaya kalau memang Wanita Katolik RI dapat dibanggakan, selain itu beliau juga menyampaikan titipan pesan dari Ketua GOW Kota Semarang yang mohon maaf karena sedianya akan datang dalam acara ini tetapi mendadak ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan di luar kota Semarang dan berpesan agar dalam membuat program kerja jangan meninggalkan program kerja kota Semarang, selanjutnya ibu Endang memperkenalkan pengurus GOW kota Semarang yang ikut hadir yaitu : Ibu Harry Murty selaku Wakil Ketua I, Ibu Rostiah Sekretaris, Ibu Janti Sugiastuti Ketua Bidang Organisasi, Ibu Ngabekti Ketua Bidang Litbang, Ibu Endang Harsono anggota bidang Ekonomi, Ibu Daryono Ketua Bidang Pendidikan serta Ibu Endah Sudiyono anggota bidang Kesra.

Acara diakhiri dengan perkenalan pengurus Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang beserta Ketua-Ketua Ranting yang hadir oleh Ibu Lita selaku Wakil Ketua II serta permohonan maaf karena dalam dinding terpampang dekorasi dengan Ucapan “Kursus Teologi Untuk Kaum Awam”, karena ruang pertemuan tersebut pada tanggal 03 Februari pada jam 17.00 WIB akan dipakai juga  untuk kegiatan lain.

Sebelum pengurus GOW kota Semarang meninggalkan ruangan ada pemberian kenangan berupa hasil industri rumah tangga anggota Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang.

 

 

KADERISASI TINGKAT PRATAMA WANITA KATOLIK RI

Minggu Kliwon, 31 Juli 2011, Ibu – Ibu Anggota Wanita Katolik RI se Kota Semarang berbondong-dondong menuju ke AULA YAYASAN PAK / SMP YOANNES XXIII Jalan Dr.Wahidin 110 Semarang , untuk hadir dan mengikuti Kaderisasi Wanita Katolik RI Tingkat Pratama dengan tema “ Melalui Kaderisasi Melahirkan Pemimpin Yang Cerdas “.
Di dalam benak dan pikiran pasti banyak yang bertanya – tanya khususnya bagi anggota yang belum pernah ikut apa Kaderisasi itu dan apa saja yang akan kita dapatkan selama mengikuti Kaderisasi
Singkat cerita : Satu persatu peserta mengisi daftar hadir,dan disitulah terjadi kebingungan karena daftar peserta dan pseserta yang hadir beda mengapa???? Karena ada beberapa ranting yang tidak memberitau panitia kalau peserta diganti dan itu tidak menjadi masalah walaupun pada awal pendaftaran peserta sebanyak 77 namun yang hadir hanya 68 peserta . okey……jalan terus.
Acara dimulai diawali dengan Doa, menyanyikan Mars Wanita Katolik RI dan sambutan , namun sayang sekali para tamu undangan tidak dapat hadir. Bp. Walikota diharapkan untuk membuka acara,juga tidak bisa hadir . Kepala SMP Yoannes XXIII dan yang lainnya mereka semua berhalangan hadir .
Materi Bahasan Kaderisasi Tingkat Pratama terdiri dari :
1. SPIRITUALITAS DAN BUDAYA NILAI
2. MEKANISME KERJA WANITA KATOLIK RI
3. RAPAT YANG EFEKTIF DAN EFISIEN

Tibalah kita pada Materi Bahasan yang pertama yaitu SPIRITUALITAS DAN BUDAYA NILAI anggota Tim yang terdiri dari : Ny. Th.Endang Sispralita I Daniel, NY. MF.Supriyanti A Kuncoro, Ny. F.Rinawati Yohanes dan Ny. EM Sri Partini Krisnubadi. Materi ini disampaikan Ny. F.Rinawati Yohanes tentang
Apakah Spiritualitas itu ? Spiritualitas artinya hal-hal yang bersifat semangat kejiwaan / rohani yaitu Suasana batin yang menjadi landasan atas pandangan dalam kehidupan .
Contohnya meluangkan waktu untuk berorganisasi, kegiatan Gereja, kegiatan dilingkungan dan kegiatan sosial masyarakat. Dan apakah Budaya Nila? Budaya artinya akal budi / pikiran sedangkan Nilai artinya harga / mutu. Jadi Budaya Nilai artinya suatu pikiran atau gagasan yang bermutu atau bernilai.
Contohnya : mendampingi anak dalam belajar, mendampingi suami dengan setia itu pasti. Dan di
dalam organisasi mengikuti ketrampilan .

Bagaimana Sejarah dan latar belakang berdirinya Wanita Katolik RI.
Pada masa penjajahan Belanda rakyat sangat menderita karena tekanan dan penindasan kaum penjajahan, terlebih kondisi kaum wanita sangat memeprihatinkan, adalah Ny. R.A. .Maria Soelastri Soejadi Sasraning Darmosaputro terketuk hatinya dan mendapat dukungan dari Pastor Drische S.J, beliau mendirikan perkumpulan untuk kaum wanita khususnya yang beragama Katolik dan dinamakan Pakempalan Wanita Katolik Jawi pada tanggal 26 Juni 1924 di Jogyakarta. Adapun tujuan dari perkumpulan ini adalah untuk mempertinggi martabat kaum wanita Katolik agar dapat menjadi anggota gereja dan Negara yang bertanggung jawab. Kegiatan utamanya adalah mengajar, membaca dan menulis.Dengan berdirinya perkumpulan ini mendapat sambutan baik dan terus berkembang.Namun kegiatan Wanita Katolik tidak terhenti dan berjalan terus dengan menggunakan jalur Gereja.

Wanita Katolik RI dalam satu kesatuan gerak perutusan.
• Wanita Katolik RI adalah Komunitas yang terorganisir. Maka gerak dan langkah Wanita Katolik RI harus satu kesatuan mulai dari Pusat sampai Ranting.
• Organisasi Kemasyarakatan yang berasaskan Pancasila. Mempunyai hak, kewajiban dan tanggungjawab terhadap Negara dan masyarakat dengan cita-cita menuju masyarakat yang sejahtera lahir dan batin.
• Sebagai wadah terbawah tempat berkomunikasi langsung para anggota adalah Ranting yang merupakan basis Komunitas Wanita Katolik RI ,basis Komunitas Insani maupun Baisi Komunitas Gerejani.
• Tugas perutusan ikut mengemban tugas Imamat, Kenabian dan Rajawi Kristus, sesuai dengan kemampuan dalam melaksanakan perutusan segenap umat Kristiani di dalam Gereja dan di dunia.

Visi Wanita Katolik RI mewajibkan adanya kesatuan pemahaman akan jatidiri dan hakekat dirinya .
Misi Wanita Katolik RI ada dua macam yaitu :
 Kegiatan kedalam , pemberdayaan anggota
 Kegiatan ke luar , Pelayanan masyarakat

Wanita Katolik RI Mempunyai Falsafah Asih, Asah dan Asuh.
Falsafah sebagai suatu pandangan hidup yang diyakini akan kebenarannya.
Asih dengan member tanpa pamrih demi keselamatan
Asah mempertajam atau meningkatkan kemampuan karena kita diberi talenta oleh Tuhan.
Asuh, memelihara dan mempertahankan kekompakan Organisasi.
Prinsip Solidaritas dan Subsidiaritas adalah Prinsip Kepemimpinan Wanita Katolik RI yang ditetapkan dalam Anggaran Dasar Bab IV pasal 8 Anggaran Rumah Tangga.
Itu merupakan Materi Bahasan yang pertama.

Materi Bahasan yang ke dua tentang MEKANISME KERJA WANITA KATOLIK RI dengan Anggota Tim : Ny. Anastasia Sri Ananingsih Among S ,Ny LA.Sutinah Budi Mulyoto,Ny. Yustina Sumaryanti Sunardi dan Ny. Veronica Sri Yulinarti. Materi bahasan yang kedua disampaikan Ny. LA.Sutinah Budi Mulyoto pada session yang pertama tentang Mekanisme Kerja. Diawali dengan penyajian slide tentang Mobil, sepeda motor, sepeda dan masyarakat semut. Peserta diberi pertanyaan apa arti mobil dsb, sebagian besar peserta menjawab sebagai sarana transpotasi, ya memang tidak keliru tetapi kurang tepat. arti sebenarnya adalah bahwa Wanita Katolik RI ibarat sebuah mesin yang mempunyai komponen yang tersusun sedemikian rupa yang dinamakan Struktur Organisasi. Dan mesin itu mempunyai gerak dan fungsi masing-masing tetapi tidak bergerak sendiri-sendiri. Dicontohkan apabila dalam organisasi mempunyai kegiatan mungkinkah akan berjalan sendiri-sendiri tentunya tidak, pasti akan ada koordinasi satu dan lainnya saling bekerja sama untuk keberhasilan kegiatan. Maka diibaratkan Mobil,Sepeda Motor maupun Sepeda karena apabila salah satu dari komponen itu tidak berfungsi tidak akan berjalan.
Masyarakat semut, tidak ada yang bekerja sendiri-sendiri pasti mereka akan selalu bergotong royong satu dan lainnya menuju suatu tempat untuk mendapatkan sesuatu. Sama seperti kita, apabila ada acara pasti akan bekerja sama untuk keberhasilannya acara tersebut.

Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Kerja yaitu tata gerak yang sudah terprogram dengan aturan-aturan, prosedur dan fungsinya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Mekanisme Kerja Wanita Katolik RI diatur dalam AD dan ART.
Adapun Struktur Organisasi Wanita Katolik RI terdiri dari
 Dewan Pengurus Pusat
 Dewan Pengurus Daerah
 Dewan Pengurus Cabang
 Dewan Pengurus Ranting
Masing-masing Dewan Pengurus dilengkapi dengan Badan Pengurus yang mempunyai Tugas dan Kewajiban.

Session kedua tentang Program Kerja dan Rencana Kerja disampaikan Ny.Anastasia Sri Ananingsih Among .
Dalam menyusun Program dan Rencana Kerja unsur – unsur yang harus diperhatikan antara lain
Tujuan atau Cita-cita Organisasi, Sumber dan Potensi yang ada dan Rencana Kerja yang memenuhi syarat : Jelas, bisa dilaksanakan, bertahap dan terarah, mudah dimengerti. .Mekanisme Organisasi tanpa didukung adanya Program Kerja yang baik dan sitem administrasi organisasi yang tertib tidak ada gunanya dan tidak menghasilkan apa-apa. Adapun Dasar-dasar progam kerja yaitu : Tugas Pokok, Fungsi dan Stategi. Dan disemua Badan Pengurus mempunyai Penasehat Rohani dan Penasehat Organisasi..

Materi Bahasan yang ke tiga tentang Rapat Yang Efektif dan Efisien dan anggota tim terdiri dari Ny. B.V.Dwiarti Susiyanti Widodo B, Ny.M.Jujuk Juariyah Purwanto, Ny. MC.Enni W Purwari dan Ny.EM Subajati Koen S. Materi ini paling unik karena Bunda Koen dengan banyolannya membuat semua peserta terpingkal-pingkal dengan gaya dan suara merdunya. Disampaikan bagaimana rapat yang efektif : yaitu dapat mencapai sasaran sesuai dengan harapan, adapun rapat yang efesien yaitu perbandingan hasil dengan kegiatan yang dilakukan harus menguntungkan. Bagaimana cara menyelenggarakan rapat dan beberapa hal tentang rapat antara lain : Tujuan Rapat, Sifat Rapat, Unsur-unsur rapat dan jenis rapat
Beberapa dasar jenis rapat ialah : berdasarkan Tujuan, Sifat, Jangka Waktu, Frekuensi, Nama. Rapat harus dipersiapkan , Pelaksanaan , mencapai Quorum, bagaimana tugas pimpinan rapat, apa saja tugas dan kewajiban peserta rapat. Apa saja bentuk pertemuan sejenis rapat antara lain diskusi, seminar, loka karya dsb. Rapat-rapat dalam Organisasi Wanita Katolik RI diatur dalam Anggaran dasar.

Materi Pidato disampaikankan Ny. MC Enni Purwari antara lain tentang Tehnik Praktis dan syarat berpidato yang baik dan beberapa tips yang dilakukan untuk berpidato. Dan yang lebih menarik dari Ny. Enny beliau mencipta lagu dengan spontan sebagai berikut :
Sego-sego panas 2x, lawuhe sambel trasi 2x, sapa pingin cerdas 2x, ndherek kaderisasi 2x.
Semua peserta menyanyi bersama-sama

Setelah materi pidato selesai dilanjutkan dengan pembagian kelas, dibagi dalam 6 kelas dan materi yang sudah diterima peserta dibahas dalam kelas masing – masing. Terlebih dahulu dipilih ketua kelas dan sekretaris dan hasil bahasan akan dipresentasikan.

Sebagai acara terakhir disampaikan Evaluasi Kaderisasi Tingkat Pratama antara lain : Pesan dan Kesan Peserta selama mengikuti Kaderisasi.
Kesimpulannya :
 Dengan adanya Kaderisasi Anggota menjadi tahu apa arti organisasi Wanita Katolik RI.
 Waktu yang disediakan sangat terbatas semoga pada acara Kaderisasi selanjutnya diperpanjang.
Kemudian dilanjutkan dengan pembagian sertifikat.

Selamat untuk peserta Kaderisasi karena telah mendapat pengetahuan dan pengalaman baru
Sampai bertemu lagi Salam Dalam Kasih Kristus

Ny.Tinah Budi Mulyoto

BASAAR… BASAAR… !!! LOMBA… LOMBA… !!!
PASAR MURAH… PASAR MURAH… !!!

Puji Tuhan …… terima kasih Tuhan …… Akhirnya …… bisul ini pecahlah sudah !!! …… Itulah pikiran dan ucapan saya yang pertama kali terlintas dan terucap begitu kegiatan Basaar, Lomba dan Pasar Murah selesai Minggu malam tanggal 4 Desember 2011 yang lalu. Saya merasa lega dan senang karena selesainya kegiatan tersebut telah menutup semua pelaksanaan program kegiatan Wanita Katolik RI cabang kota Semarang di sepanjang tahun 2011.
Kegiatan Basaar, Lomba dan Pasar Murah yang mengambil tema “Berlomba dan Berjuara Mewarnai Peran Aktif dalam Berbagi Kasih di Kotaku” merupakan kegiatan bidang usaha bekerja sama dengan bidang kesejahteraan yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian anggota Wanita Katolik RI terhadap KLMTD, meningkatkan kreatifitas pelajar sebagai generasi penerus bangsa dalam mendukung pembangunan bangsa dan juga untuk mencari dana guna mendukung kegiatan-kegiatan yang ada. Diadakan di tanggal 3 – 4 Desember 2011 dengan maksud sekaligus memperingati hari Ibu dan menyongsong hari Natal dan tahun baru.

Dibentuk dan ditetapkan tanggal 22 September 2011, kami panitia yang digawangi ibu Anastasia Sri Ananingsih Among S. langsung mulai bekerja dengan menyusun rencana-rencana yang meliputi : jenis lomba, jumlah stand basar, bentuk pasar murah, perijinan-perijinan dan sebagainya. Dari beberapa rapat koordinasi, akhirnya ditetapkan hal-hal sebagai berikut :

1. Pelaksanaan kegiatan :
a. Hari/Tanggal : Sabtu dan Minggu, 3 – 4 Desember 2011
b. Waktu : 08.00 – 21.00 WIB
c. Tempat : Gedung Sukasari, Jl. Dr. Sutomo Semarang

2. Stand Basaar :
a. Di dalam gedung Sukasari : 36 stand ( ukuran 2 x 2 m )
Biaya sewa : Rp. 200.000,- / 2 hari
b. Di halaman gedung Sukasari : 24 stand ( ukuran 2 x 4 m )
Biaya sewa : Rp. 250.000,- / 2 hari

3. Pasar Murah :
a. Sasaran :
– Masyarakat umum warga sekitar Gunung Brintik
– Tukang parkir dan Penyapu jalan sekitar Balai Kota Semarang
b. Bentuk Pasar Murah :
– Pasar murah akan dijual dalam bentuk paket sebanyak 200 paket
– Harga per paket dijual : Rp. 20.000,-
– Setiap paket berisi :
– 2 kg beras
– 1 kg gula pasir
– 1 liter minyak goreng
– ½ kg kecap

4. Lomba :
a. Sasaran :
– Pelajar Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak se kota Semarang
– Pelajar SD kelas 1 – 4 se kota Semarang
b. Jenis Lomba :
– Kelompok Bermain : Memindahkan bola sesesuai warna, memasukkan beras ke dalam botol
– TK A : Mewarnai gambar, matematika dan Lasy
– TK B : Melengkapi & mewarnai gambar, matematika dan Lasy
– SD Kelas 1 & 2 : Melengkapi dan mewarnai gambar
– SD Kelas 3 & 4 : Membuat bingkai foto atau tempat pensil dengan bahan dasar dari Stick Ice Cream
c. Kajuaraan dan Hadiah Lomba :
– Kejuaraan : Juara I, II, III, Harapan I, Harapan II dan Harapan III
– Hadiah : masing – masing mendapatkan Trophy dan sertifikat

Kami segenap panitia, termasuk saya berusaha semaksimal mungkin mewujudkan rencana di atas, karena dari semua program Wanita Katolik RI cabang kota Semarang di tahun 2011, kegiatan ini merupakan kegiatan terbesar ketiga setelah Misa Syukur Setia Bakti Kotaku, Jumpa Sesama dan Semesta. Namun di tengah perjalanan ada saja kerikil dan batu-batu yang menghalangi dan merintangi lajunya perjalanan kami antara lain : panitia yang bergiliran terkena musibah dan jatuh sakit (termasuk ketua panitianya) , perijinan yang alot, pencarian dana dan donatur yang seret, penjaringan peserta lomba yang sulit ( karena berbenturan dengan test akhir semester dan kegiatan lomba kelompok lain ). Namun dengan semangat dan pantang menyerah kami semua terus berjalan menembus rintangan-rintangan yang ada. Kesetiaan, komitmen yang tinggi, dedikasi, loyalitas, kebersamaan mewarnai perjalanan kami.

Tetap saja saya merasa kuatir dan was-was, karena 2 minggu menjelang hari “H”, jumlah peserta lomba baru mencapai 25 orang , belum lagi perhitungan dana yang masih defisit. Akhirnya saya dan panitia yang lain hanya bisa berpasrah kepada Tuhan dan memohon pertolongan-Nya melalui Novena 3 Salam Maria selama 9 hari berturut-turut, selain juga tetap berupaya mencari jalan keluar. Dan ternyata kekuatan doa memang sungguh luar biasa……., permohonan kami yang disertai dengan usaha pantang menyerah dikabulkan oleh-Nya. Pada hari “H”, akhirnya lomba diikuti oleh sebanyak 143 peserta, Basaar diikuti oleh 31 stand dalam dan 24 stand luar dan Pasar Murah berhasil menjual 200 paket Sembako murah sesuai rencana.

Pelaksanaan Basaar. Lomba dan Pasar Murah terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama dilaksanakan pada hari Jum’at, 18 Nopember 2011 dimana Wanita Katolik RI cabang kota Semarang ikut berperan serta memeriahkan peringatan HUT emas ke 50 GOW kota Semarang. Kita sebagai organisasi yang tergabung dalam GOW berkewajiban turut mengusungnya. Di bagian pertama ini kita menampilkan hasil lomba pemanfaatan limbah, menjual paket Sembako murah sebanyak 100 paket dan menjual hasil karya kita.
Di bagian kedua inilah pelaksanaan kegiatan yang sebenarnya. Kegiatan dibuka oleh Romo FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr. selaku Romo Penasehat Rohani Wanita Katolik RI cabang kota Semarang pada pukul 08.30 WIB menyusul sambutan yang disampaikan beliau. Dalam sambutannya, beliau sangat mendukung kegiatan ini khususnya untuk kegiatan pasar murah yang menunjukkan kepedulian Wanita Katolik RI terhadap KLMTD dan juga kegiatan lomba yang menampung kreatifitas anak-anak bangsa.

Pembukaan dilanjutkan dengan pertunjukkan Barongsai yang merupakan sumbangan dari Bongsari yang disusul dengan pelaksanaan lomba-lomba. Selanjutnya semuanya berlangsung dengan lancar dan terkendali selama 2 (dua) hari, hanya sayangnya di hari pertama diwarnai dengan hujan yang terus turun dari siang sampai malam hari. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar peserta stand mengeluh dagangannya tidak laku.

Pada akhirnya, saya merasa bahwa kegiatan penutup ini berhasil terlaksana dengan baik dan cukup sukses, yang dapat menghilangkan segala macam rasa sakit, kecewa, jengkel, penat dan lain-lain yang juga ikut mewarnai perjalanan kami. Terbayar sudah semuanya, saya merasa senang, bahagia, lega, terharu bercampur menjadi satu. Akhirnya…….. buah-buah yang dihasilkan terasa sangat manis. Terima kasih …… terima kasih……. terima kasih……… kepada semua sahabat, teman, donatur, peserta basaar, peserta lomba dan semua pihak yang turut berperan serta dalam kegiatan ini.
Tuhan memberkati …………………

Semarang, 15 Desember 2011

CBA

KITA MEMBUTUHKAN KEKATOLIKAN YANG EKSPLISIT
Oleh: Nugroho SBM

Organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) merupakan organisasi massa (ormas) yang masih mencantumkan nama katolik secara eksplisit di antara sedikit organisasi yang demikian. Setahu saya kini hanya ada Wanita Katolik Republik Indonesia dan Pemuda Katolik sebagai ormas katolik yang resmi diakui oleh pemerintah. Di samping itu ada Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI) yang sifatnya informal dan kini tampaknya kegiatannya meredup.

Sejak Partai Katolik bubar ketika Orde Baru mulai berkuasa – karena memang hanya 3 (tiga) partai yang diperbolehkan berdiri yaitu Golkar, PDI, dan PPP – umta katolik tampaknya tidak secara eksplisit berjuang dengan nama wadah katolik dan bahkan nama katolik. Kebanyakan para politikus katolik berjuang di partai dan organisasi-organisasi umum.
Apakah itu sesuatu yang salah? Menurut saya tidak. Yesus sendiri bersabda bahwa ”… Kamulah Garam dan Terang Dunia…” (Matius 5: 13-16). Garam adalah sesuatu yang tidak kelihatan tetapi ada rasanya atau dirasakan kehadirannya. Sementara terang adalah sesuatu yang jelas kelihatan. Di organisasi apapun dan di jaman apapun selalu ada strategi sebagai garam dan strategi sebagai terang. Pada jaman perjuangan kemerdekaan- misalnya – ada yang menempuh strategi sebagai terang yaitu lewat jalur diplomasi. Mereka berunding dengan terus terang mewakili Indonesia berhadapan dengan wakil dari penjajah. Tetapi di pihak lain ada yang mempunyai strategi sebagai garam yaitu mereka yang berjuang dengan melakukan perang gerilya yang tentu tidak terang-terangan menampakkan diri. Kedua strategi berjalan beriringan, tanpa ada yang merasa lebih unggul dan ternyata menghasilkan buah yang manis yaitu kemerdekaan Indonesia.

Jika diamati sekarang ini – mungkin juga karena kondisi – banyak orang katolik yang menempuh strategi perjuangan sebagai garam. Di samping menggunakan sarana organisasi umum juga seringkali menyembunyikan identitas katoliknya (misalnya dengan tidak mencantumkan nama baptis). Di samping situasi dan kondisi, alasan lain adalah bahwa memperjuangkan kepentingan umum toh nanti juga secara implisit memperjuangkan kepentingan umat katolik. Sesuai dengan artinya, katolik adalah umum. Kalau alasannya adalah alasan taktis – strategis dan memang demi kepentingan gereja maka hal itu adalah sah-sah saja. Tetapi yang dikhawatirkan adalah jika menyembunyikan identitas katolik itu sebagai upaya untuk kepentingan pribadi. Sudah banyak kita ketahui bagaimana orang katolik rela menyembunyikan identitasnya supaya bisa menduduki jabatan tinggi di pemerintahan. Atau bahkan yang lebih parah banyak orang katolik yang rela berpindah agama hanya demi karir atau kekayaan belaka. Jika yang terjadi demikian maka hal ini tentu merupakan sesuatu kekeliruan yang besar. Mereka mungkin tidak ingat sabda Yesus yang mengatakan: ”..Barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, maka Aku akan menyangkalnya pula di depan BapaKu di surga..” (Matius 10:33). Meskipun menyangkal Yesus bisa diartikan juga berbuat yang tidak baik atau tidak sesuai perintahNya, tetapi hal paling gampang dilihat adalah dengan menyembunyikan identitas katolik.

Bahaya lain dari strategi sebagai garam adalah umat katolik menjadi minder dan lama kelamaan lupa serta tidak bangga lagi akan kekatolikannya. Maka kalau sampai sekarang WKRI menyandang nama katolik secara eksplisit berani melakukan kegiatan sosial-kemasyarakatan yang positif khususnya dalam memperjuangkan hak-hak kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel umat katolik dan hirarki mestinya mendukungnya. Memperjuangkan kaum ibu khususnya dan kaum wanita pada umumnya yang kita peringati tiap 22 Desember yang hak-haknya seringkali kurang diperhatikan juga menjadi tantangan bagi WKRI. Inilah strategi sebagai terang itu. Hal ini sesuai juga dengan peringatan Natal dimana Yesus lahir sebagai terang dunia yang hendak membebaskan manusia dari kegelapan dosa. Yesus secara terus terang menampakkan diri di tengah masyarakat untuk memperjuangkan keadilan dan menunjukkan jalan terang tanpa sembunyi-sembunyi. Akibatnya memang amat berat yaitu Ia harus rela wafat di salib. Tetapi setelah itu datanglah kebangkitan dan keselamatan.

Semoga WKRI bisa meniru Yesus sebagai terang dunia.

RAPAT KERJA CABANG

Dengan mengambil tema “Hidup sebagai Sakramen yang rela dipecah dan dibagikan” ibu Sentot membuka Rapat Kerja tahun 2012 yang sekaligus juga merupakan Rapat Koordinasi Cabang (Rakorcab) Kota Semarang, dimulai pukul 16.30 WIB mundur setengah jam dari waktu yang telah ditentukan (karena hujan?).
Rapat Kerja tersebut diselenggarakan pada tanggal 17 dan 18 Desember 2011 bertempat di Panti Samadi Nazaret dengan peserta lebih kurang 42 ibu terdiri dari pengurus Cabang dan Ketua Ranting se kota Semarang.

Sebagai acara pembuka adalah Rekoleksi dengan nara sumber Penasehat Organisasi Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang ibu Handajani Tjiptoprajitno dengan renungan bahwa ibu-ibu jangan lupa akan ikatannya, kalau semua pengurus bersatu akan menjadi kuat, semua pengurus mempunyai kelebihan dan kekurangan kalau disatukan akan saling melengkapi. Ibu Tjipto memuji bahwa pengurus sekarang banyak yang muda dan energik, dapat menyelesaikan program yang telah direncanakan tetapi sayang dengan “ngos-ngosan”, alangkah baiknya kalau semuanya tersusun dengan rapi.
Kemudian dilanjutkan dengan permainan meniup cairan dengan warna 4 (empat) macam yang diambil dengan sedotan dari mangkuk, hasil tiupan itu bermacam-macam, ada yang warnanya bisa nyampur, ada yang sendiri-sendiri, kemudian beberapa ibu maju ke depan untuk mempresentasikan hasil tiupannya, ternyata ibu-ibu pandai mempresentasikan.
Kemudian dilanjutkan dengan penayangan gambar tikus kecil dan singa, yang semula tikus kecil digertak oleh singa untuk pergi, tetapi akhirnya malah menolong singa yang terjerat oleh jerat pemburu, dimana binatang yang lain hanya melihat tetapi tikus kecil dengan rela menggigit jeratnya sehingga bisa bebas, itulah pengorbanan seekor tikus kecil, ia rela berkorban untuk hewan yang telah mengusirnya, tidak ada rasa dendam. Begitu pula dalam suatu organisasi harus saling tolong menolong, bertindak cepat kepada siapa yang membutuhkan.

Acara selanjutnya permainan yang dipandu oleh mbak PIKA dari Student Training Center Unika Sugijapranata, begitu ramai dan heboh ibu-ibu mengikuti permainan ini. Ibu-ibu dibagi dalam 4 (empat) kelompok dimana masing-masing kelompok ada ketua kelompoknya. Permainan pertama mengurutkan barisan dengan urutan umur dari yang paling muda, kemudian urutan tinggi dan sebagainya, yang kalah mendapat hukuman dengan mukanya dioseri cairan bedak (bedaknya wangi lho karena bedak bayi). Sebagai penutup permainan adalah permainan tali yang dipegang oleh masing-masing anggota untuk mengurainya, permainan ini butuh kesabaran dan kerjasama yang baik, harus ada yang memimpin.
Dari permainan-permainan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam berorganisasi kerjasama, kesabaran dan kepemimpinan yang baik sangat dibutuhkan, sehingga bisa tercipta suatu organisasi yang solid.

Tepat pukul 19.30 WIB permainan selesai dilanjutkan dengan istirahat dan makan malam sebelum melangkah ke acara selanjutnya yaitu evaluasi program kerja.
Dalam evaluasi ini peserta dibagi menjadi 3 (tiga) kelompok : yaitu kelompok I menangani Sekretaris, Bendahara dan bidang Organisasi dengan koordinator Ibu Sentot, kelompok II meliputi Bidang Kesra dan Usaha dipandu ibu Among, sedang kelompok III menangani bidang Pendidikan dan Humas dipimpin ibu Lita.
Hasil evaluasi kegiatan kerja tahun 2011 adalah sebagai berikut :
Sekretaris :
Dalam menyampaikan surat undangan ke Ketua Ranting waktu terlalu mepet, sehingga kalau tidak bisa hadir susah untuk mencari gantinya, kadang-kadang kalau dititipkan pengurus juga lupa memberitahukannya, sehingga ditelpon mendadak.
Bendahara :
Mohon untuk Ranting tertib dalam membayar iuran dll, kalau tidak dapat hadir mohon dapat dititipkan, sehingga tidak menumpuk pembayarannya.
Bidang Organisasi :
1. Untuk wawanhati terus dilanjutkan, tidak hanya untuk Ranting yang bermasalah dan hasilnya bisa dirangkum.
2. Pembuatan laporan pertanggungjawaban kegiatan jangan terlalu molor waktunya, contoh untuk laporan jumpa semesta dan sesama.
Bidang Kesra.
1. Misa HUT kota Semarang sukses, perlu ditingkatkan dalam misa selanjutnya.
2. Seminar untuk lansia belum terlaksana
3. PPUK juga belum tersentuh
Bidang Pendidikan :
Untuk pelatihan dan lomba-lomba sukses, tetapi tidak semua Ranting mengikuti, mungkin untuk selanjutnya Ranting yang tidak ikut bisa kena sangsi/denda.
Bidang Humas :
Buletin Percik sudah terbit mohon masukan artikel jangan mepet dan tidak usah diingatkan
Bidang Usaaha :
Bazar dan pasar murah serta lomba untuk anak-anak sukses, hanya ada beberapa peserta yang tidak mendpatkan hasil sesuai yang diinginkan,, karena hujan, dll.
Hasil evaluasi secara keseluruhan dari Ranting-Ranting : kegiatan tahun 2011 memerlukan dana yang besar, sehingga ada 3 (tiga) proposal yang diedarkan, ini membuat Ranting-Ranting kelabakan dalam mencari dana. Untuk selanjutnya agar dipertimbangkan.
Pertemuan hari pertama ditutup pukul 22.15 dengan doa.
Tanggal 18 Desember 2011 setelah selesai makan pagi, tepat pukul 08.00 WIB rapat dilanjutkan dengan penyusunan program kerja, dengan hasil kegiatan kerja tahun 2012 sebagai berikut :
Sekretaris :
1. Pengiriman dan pengarsipan surat
2. Membuat laporan berkala

3. Membuat laporan kegiatan
4. Pencatatan dan penyimpanan inventaris
Bendahara :
1. Menghimpun uang iuran anggota dan dana yang masuk
2. Pengadaan blanko iuran anggota dan kwitansi khusus peneriman/pengeluaran uang
3. Melakukan administrasi pembukuan dengan rapi, transparan dan terbuka
4. Pengeluaran dana satu pintu dan dipertanggungjawabkan
5. Membuat laporan
Bidang Organisasi :
1. Mempersiapkan dan mensosialisasikan setiap bentuk kegiatan secara organisasi.
2. Persiapan Konfercab III
3. Kaderisasi rutin
4. Menghadiri Rapat Berkala DPD
5. Wawanhati untuk ranting yang bermasalah, pendampingan untuk Ranting yang membutuhkan
6. Pelaporan kegiatan tepat waktu
7. Pleno bulanan
8. Pendataan ulang/anggota baru
Bidang Kesra
Kesra Kerohanian :
1. Misa awal tahun
2. Paska bersama
3. Kongres Ekaristike II KAS
4. Misa HUT ke 88 WKRI di Cungkup Mgr. Alb.Sugiyopranoto
5. Rekoleksi pengurus DPD, DPC
6. Misa Arwah/Akhir Tahun
Kesra Kesehatan :
1. Upaya peningkatan kesehatan bagi balita gizi kurang.
2. Penyuluhan kesehatan bagi lansia
Kesra KK :
1. Kotak peduli papa
2. Kunjungan kasih
3. Memelihara keutuhan ciptaan (penghijauan lingkungan, penanamanTOGA).
4. PPUK (Pendampingan Perempuan Usaha Kecil)
Bidang Pendidikan :
1. Bekerjasama dengan bidang Humas dalam kegiatan lomba liputan satu masa bakti 2010-2013 dengan Lomba liputan tiap Ranting.
2. Bersama PSE belajar membuat “Sabun Matix” khusus untuk mesin cuci dan sabun cuci piring.
Bidang Usaha :
1. Menertibkan iuran anggota
2. Penjualan rangsang hadir

3. Penjualan AD/ART dan atribut
4. Warung Anna

Usulan untuk “Sehari peduli anak/pendidikan” dari pengurus untuk sementara atas usulan dari Ketua Ranting ditiadakan dulu, mungkin dapat dimasukkan dalam Konfercab III yang akan datang. Untuk itu kegiatan Pemantauan Balita Gizi kurang, merupakan program mandiri, didanai sendiri oleh Rangting-ranting.
Rapat Kerja ditutup pukul 13.30 WIB dengan ucapan terima kasih dan diakhiri dengan doa.

wiwik

SUDAH SAATNYA WKRI MELANGKAH KE DUNIA POLITIK

Oleh Nugroho SBM

            Sejak berdiri tanggal 26 Juni 1924 sampai sekarang, harus diakui WKRI telah melakukan berbagai tindakan nyata yang berguna bagi kaum wanita khususnya maupun bagi masyarakat pada umumnya. Pada saat berdirinya di tahun 1924, WKRI menjalankan program yang sangat sederhana yaitu mengadakan kursus jahit-menjahit dan ketrampilan lainnya serta mengadakan kursus untuk pemberantasan buta huruf. Sebuah program yang kelihatannya sederhana tetapi memang sangat dibutuhkan pada waktu itu.

Pada saat ini banyak program WKRI yang nyata dan sangat dibutuhkan oleh kaum wanita pada khususnya dan masyarakat pada umumnya antara lain: program penanggulangan gizi buruk, pemberian bea siswa, serta partisipasi pada berbagai program baik yang diselenggarakan pemerintah maupun organisasi-organisasi masyarakat lain seperti Gabungan Organisasi Wanita (GOW)

Namun, kalau boleh memberikan pendapat, sudah saatnya WKRI sekarang ini mulai terjun ke dunia politik. Dunia politik memang diasosiasikan sebagai dunia yang “keras” (karena penuh persaingan) dan sekaligus kotor (karena penuh dengan tipu muslihat  dan intrik untuk menjatuhkan lawan). Tetapi dunia politik juga merupakan dunia tempat seluruh umat katolik ikut memperjuangkan dunia yang lebih baik seperti yang tercantum dalam doa Bapa Kami yaitu “….. Jadilah KehendakMu di atas bumi seperti di dalam surga….”. Jadi sebagai umat katolik kita harus berjuang dan ambil bagian supaya keadaan di bumi seperti di surga. Surga bukan perkara nanti tetapi sudah mulai sekarang di bumi. Ada banyak cara untuk mewujudkan surga di bumi dan salah satunya adalah lewat politik

Berjuang lewat kegiatan politik juga merupakan kegiatan yang “suci”. Romo Dr Edy Kristianto OFM malah menulis buku tentang Sakramen Politik (2008). Meskipun bukan dalam arti sakramen yang sesungguhnya tetapi romo Edy hendak mengatakan bahwa berjuang lewat politik juga merupakan perjuangan yang suci untuk membangun dunia  yang lebih baik.

Dengan terjun ke dunia politik, maka ada dua peran yang dapat dimainkan oleh anggota WKRI. Pertama, mempengaruhi kondisi masyarakat Indonesia melalui perannya sebagai anggota legislatif yang bertugas membuat dan menyetujui undang-undang serta melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang tersebut. Misalnya saja sekarang ini banyak dikeluhkan bagaimana sulitnya mendirikan bangunan gereja, bagaimana sulitnya seorang kristiani di daerah-daerah tertentu untuk dimakamkan di pemakaman umum, bagaimana kekerasan-kekerasan terjadi atas nama agama, dan lain-lain. Semua itu bisa dicegah jika ada perundang-undangan  yang baik yang memberi suasana nyaman pada semua anggota masyarakat tanpa memandang Suku,  Agama, Ras, dan Aliran (SARA). Mungkin memang sudah ada undang-undang atau peraturan daerah (perda) yang memberikan suasana nyaman bagi semua anggota masyarakat; tetapi dalam pelaksanaannya diselewengkan. Lagi-lagi menjadi tugas anggota WKRI yang menjadi anggota DPR atau DPRD untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan peraturan yang telah ada.

Peran kedua anggota WKRI sebagai anggota DPR dan DPRD adalah bagaimana “melembutkan” dunia politik yang keras. Selama ini jika mayoritas anggota DPR atau DPRD laki-laki maka yang terjadi adalah wajah yang keras dari dunia politik. Maka peran wanita di sini dibutuhkan untuk memberi kesan lembut dan santun bagi dunia politik.

Khusus untuk kaum wanita, peluang untuk terjun ke dunia politik sebenarnya cukup besar karena sejak Pemilihan Umum Tahun 2004, undang-undang mengharuskan penjatahan atau kuota perempuan di DPR adalah 30 persen. Artinya setiap ada 3 anggota DPR maka satu orang harus perempuan.  Melihat kemampuan anggota-anggota WKRI maka banyak di antaranya yang bisa menjadi anggota DPR dan DPRD.

Jika perjuangan politik yang dipakai sebagai salah satu perjuangan maka WKRI bisa menjadi organisasi kader. WKRI sebagai Organisasi kader tugasnya adalah memberi bekal bagi anggota-anggotanya yang dipersiapkan menjadi anggota DPR dan DPRD dengan berbagai ketrampilan yang dibutuhkan dan pembekalan masalah etika dan moral. Ibaratnya WKRI adalah tempat “mengasinkan” garam, kemudian garam itu ditabur atau dilarutkan dalam organisasi politik.

Jika dilihat dari berbagai pembekalan yang dilakukan oleh WKRI seperti teknik memimpin rapat yang efektif, public speaking, dan lain-lain sudah cukup untuk bekal. Hanya mungkin dibutuhkan kursus kepemimpinan berjenjang yang wajib dilakukan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dengan jadwal yang teratur. Misalnya tiap-tiap cabang diwajibkan menyelenggarakan kursus kepemimpinan tingkat dasar selama berapa kali pada masa kepengurusan. Kemudian Komisariat daerah (tingkat provinsi) diwajibkan melanjutkannya dengan mengadakan kursus kepemimpinan tingkat menengah, juga selama berapa kali dalam masa kepengurusan. Dan akhirnya dewan pengurus pusat (nasional) melanjutkannya dengan kursus kepemimpinan tingkat lanjut. Untuk materomaterinya mungkin bisa disusun dengan berkonsultasi kepada pihak-pihak yang berkompeten, misalnya: para tokoh politik, pengusaha, konsultan manajemen, dan lain-lain. Tak kalah pentingnya pembekalan etika dan moral juga perlu diberikan karena banyak anggota DPR dan DPRD yang kemudian terjerumus ke perbuatan yang tidak terpuji seperti korupsi karena kurangnya bekal etika dan moral.

JUARA  I  LOMBA  MENULIS  ARTIKEL

 

AKU BANGGA MENJADI ANGGOTA WKRI

 

                Menjadi anggota WKRI adalah pilihan hidup yang aku pilih. Semenjak aku membina hidup berkeluarga tahun 1994, berorganisasi bukan hal yang asing bagi saya karena sebelum menikah saya sudah aktif di beberapa organisasi seperti Pemuda Katolik, KKMK (kelompok Karyawan Muda Katolik), dan sebelumnya di muda-mudi katolik (Mudika).

Kesenangan saya dalam bersosialisasi lewat organisasi maupun kegiatan-kegiatan sosial tidak lepas dari lingkungan keluarga. Saya dibesarkan di sebuah desa di Kabupaten BantulYogyakarta. Saya dibesarkan di lingkungan keluarga besar yaitu ber 13 bersaudara. Semenjak SD saya sudah ditinggal ayah yang meninggal karena sakit.  Di bawah asuhan ibu, sejak kecil saya sudah dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan gereja dan masyarakat. Kebetulan ibu saya dulu aktif di WKRI. Beliau menjadi ketua WKRI cukup lama dan di desa juga aktif sebagai penggerak PKK. Teladan ibu tersebut sangat mewarnai dan menjadi inspirasi bagi hidup saya.

Sejak kecil sampai kuliah, saya tinggal di Kabupaten Bantul. Setelah selesai kuliah, saya mengajar di sebuah SMP di Kota Purwokerto selama 7 (tujuh) tahun yaitu dari tahun 1987 sampai 1994. Di Kota Purwokerto itulah – saya yang waktu itu aktif di Pemuda Katolik – dipertemukan dengan pasangan hidup saya yang sama-sama aktif di Pemuda Katolik. Waktu itu saya sebagai pengurus Cabang Pemuda Katolik Kabupaten Banyumas, sementara suami saya di pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Provinsi Jawa Tengah. Kami sering bertemu di berbagai kegiatan, sampai akhirnya kami dipersatukan dalam ikatan perkawinan pada tanggal 1 Januari 1994. Kemudian saya mengikuti suami yang tinggal dan bekerja di Kota Semarang. Kami tinggal di perumahan Genuk Indah.

Ketika mulai tinggal di Genuk Indah inilah saya masuk menjadi anggota WKRI. Berarti saya mulai masuk menjadi anggota WKRI mulai tahun 1994. Saya adalah anggota termuda WKRI di lingkungan Genuk waktu itu. Anggota yang lain sudah sepuh-sepuh dan putranya sudah besar-besar, sementara saya baru saja menikah dan belum punya putera.  Belum lama menjadi anggota WKRI, saya mulai ditugasi sebagai seksi sosial. Banyak kegiatan di WKRI Lingkungan, selain pertemuan rutin tiap bulan yang diadakan bergilir di rumah-rumah anggota. Berbagai kegiatan tersebut di antaranya: koor, rekoleksi, anjangsana ke panti asuhan, membagi sembako untuk tukang becak, dan lain-lain Pada waktu itu WKRI secara struktur organisasi masih mengikuti hirarki gereja sehingga banyak kegiatan gerejawi yang dilakukan. Saya sangat senang bisa ikut dalam berbagai kegiatan tersebut karena bisa berbagi dengan sesama.

Dalam perjalanan waktu, saya dikaruniai 2 (dua) orang putera. Meskipun anak-anak masih kecil tetapi saya bisa membagi waktu untuk terus mengkikuti berbagai kegiatan WKRI. Setelah menjadi anggota WKRI Lingkungan kurang lebih 4 (empat) tahun, saya diajak untuk mengikuti WKRI di Ranting Kecamatan Genuk. Ketua rantingnya pada waktu itu adalah Ibu Sri Haryanto. Di ranting saya pada waktu itu sebagai anggota yang paling muda. Seperti di organisasi lain, begitu ada anggota yang muda pasti langsung diberi tugas. Demikan juga dengan saya, waktu itu, langsung ditunjuk sebagai bendahara. Menjadi bendahara di ranting merupakan pengalaman baru karena adiministrasinya lebih tertib dibanding di PKK waktu itu.

Kegiatan di ranting Kecamatan Genuk antara lain Rapat Pleno Tiap bulan di rumah-rumah anggota. Ini juga menambah pengalaman baru karena saya menjadi mengenal wilayah-wilayah di Kecamatan Genuk. Di samping itu, kegiatan di Ranting juga lebih banyak karena harus mengikuti juga kegiatan-kegiatan di tingkat Cabang Kota Semarang.

Pada akhir tahun 2001 sampai pertengahan tahun 2002 , saya sempat berhenti dari kegiatan WKRI karena harus merawat anak kedua yang sakit. Anak kedua saya menderita Leukimia dan harus dirawat selama 7 bulan. Selama 7 bulan itu saya dan suami saya banyak tinggal di Rumah Sakit Santa Elisabeth Semarang. Bukan hal yang mudah bagi saya mengalami hal itu. Kami harus menghadapi anak yang masih kecil tetapi sudah harus menderita luar biasa karena harus menjalani chemoteraphy, transfusi darah  setiap hari, dan masih banyak pengobatan lain yang menyakitkan.

Di saat-saat sulit seperti itu, saya sangat terbantu karena teman-teman dari WKRI, tetangga, dan saudara-saudara begitu besar perhatiannya kepada kami. Mereka semua sangat menguatkan kami. Meski pada akhirnya kami harus merelakan anak kami kembali ke pangkuan Tuhan karena memang sakitnya sangat berat, tetapi kami bersyukur boleh mengalami semua itu dengan ikhlas dan iman yang kuat bahwa Tuhan punya rencana yang indah bagi kami.

Waktu terus berlalu,  saya kembali aktif dalam kegiatan-kegiatan baik di PKK, Paduan Suara, maupun di WKRI. Pada bulan Mei 2004 di ranting kami (Kecamatan Genuk) diadakan rapat anggota. Rapat tersebut merupakan yang pertama di antara ranting-ranting yang lain di Cabang Kota Semarang. Dan tanpa saya duga, saya dicalonkan dan terpilih sebagai Ketua dengan suara terbanyak. Sesaat saya syok. Mengapa saya? Sebab banyak calon lain yang lebih senior dari saya. Dalam kebingungan, saya ”terpaksa” menerima dan bersedia menjadi ketua. Rapat anggota tersebut, pada waktu itu, dihadiri oleh ketua cabang Semarang Ibu Cipto. Dalam sambutannya, beliau banyak memberi wejangan yang menguatkan saya. Maka mulailah saya menjalankan tongkat estafet kepemimpinan sebagai ketua WKRI Ranting Kecamatan Genuk dari Ibu Sri Haryanto.

Pada awalnya saya merasa takut dan bingung, mau dibawa ke mana WKRI Ranting Genuk? Tetapi saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Biar Dia yang menuntun saya dalam menjalankan tugas. Saya mulai mengikuti rapat-rapat pleno Cabang dan kegiatan-kegatan lain yang diadakan cabang. Beberapa kali saya diutus oleh Bu Cipto selaku ketua cabang untuk mewakili dalam kegiatan, seperti:

  1. Temu Agung Umat Katolik Keuskupan Agung Semarang di Gedang Anak selama 3 hari
  2. Konferda WKRI Jawa Tengah pada Oktober 2004 sebagai peninjau.

Di samping itu,  ada banyak kegiatan-kegiatan dari cabang sendiri yang saya ikuti.

Berkat bimbingan Tuhan, saya menyelesaikan tugas sebagai ketua Ranting Kecamatan Genuk pada tahun 2007. Dalam rapat anggota, teman-teman masih menghendaki saya untuk bersedia dipilih menjadi ketua lagi. Tetapi kesehatan saya yang pasang surut membuat saya tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai ketua ranting lagi. Namun saya berjanji akan tetap aktif di kepengurusan ranting. Dan ketika akhirnya, Ibu Sri Haryanto terpilih lagi sebagai ketua Ranting Genuk, saya dipilih sebagai ketua bidang pendidikan. Saya juga didorong untuk menjadi pengurus cabang Semarang. Tetapi lagi-lagi karena faktor kesehatan saya, saya tidak berani menerimanya. Namun demikian, saya masih sering dilibatkan di cabang dalam beberapa kegiatan di antaranya membantu memberi pembekalan dalam kaderisasi tingkat dasar.

Waktu berjalan dengan cepat. Pada tahun 2010, diadakan lagi rapat anggota di Ranting Kecamatan Genuk untuk memilih kembali ketua. Sebenarnya sudah ada 2 (dua) calon ketua yang bersedia. Tetapi saya disuruh untuk mencalonkan diri hanya untuk meramaikan atau istilah jawanya ”ngombyongi”. Tiba waktunya pemilihan, eh ternyata hampir semua suara ditujukan kepada saya. Saya sebenarnya merasa jengkel dan bingung, mengapa saya yang sudah siap untuk tidak dipilih justru dipilih lagi?. Selama 1 (satu) bulan saya merasa ”nglokro”. Lagi-lagi tugas akan menghadang di depan saya. Tetapi dalam permenungan,  saya kembali menemukan semangat dan kekuatan. Dalam hati saya berkata: Tuhan,  kalau ini memang kehendakMu aku serahkan semuanya dalam TanganMu.

Meskipun banyak suka dan duka selama 17 (tujuhbelas) tahun menjadi anggota WKRI, saya bangga karena boleh sedikit mengambil bagian dalam karya Tuhan untuk sesama melalui WKRI. Terima kasih Bapa atas penyelenggaraanMu sampai saat ini dan bimbinglah untuk boleh menyelesaikan tugas ini.

Data Penyusun:

Nama                                                        : Theodosia Sulistyorini Nugroho

Tempat/ Tanggal Lahir                            :  Bantul, 21 Maret 1966

Alamat                                                     :  Jl. Kapas Utara XIII/ H 120 Semarang

Anggota WKRI Wilayah Kerja/Ranting : Genuk Indah Timur/ Genuk

JUARA  II  LOMBA  MENULIS  ARTIKEL

 

AKU BANGGA MENJADI ANGGOTA WANITA KATOLIK RI

WKRI ? Apa itu ? Itulah jawaban yang akan muncul dari mulutku saat itu bila aku ditanya  tentang WKRI. Jujur awalnya aku tak kenal dengan Wanita Katolik Republik Indonesia atau lebih dikenal dengan WKRI, meskipun aku menjadi katolik sudah lama, sejak usiaku 11 tahun karena setahuku kegiatan wanita dan ibu-ibu katolik di lingkungan dan di gereja saat itu adalah menengok orang sakit, ziarah, rosario, sembahyangan, koor dan arisan atau sarahsehan ibu-ibu lingkungan sampai akhirnya aku dewasa. Ketika dewasa beberapa kegiatan sudah ku ikuti dari mudika, koor, lektor, rekoleksi dan lain-lain. Namun yang namanya WKRI aku juga masih belum kenal betul hanya kenal sekilas kukatakan sekilas karena aku hanya tahu kepanjangan dari WKRI, dalam benakku jika seseoarang mengikuti kegiatan wanita atau ibu-ibu di lingkungan secara otomitis akan menjadi anggota WKRI. Ternyata tidak. Persepsi yang kurang tepat ini terus ada sampai aku menikah dan aku harus belajar mandiri berpisah dengan orang tua, meskipun rumah yang aku tempati tidak jauh dari rumah orang tua  karena masih dalam satu kelurahan.

Hari-hari di lingkungan yang baru di mana aku tinggal di perumahan KORPRI karena suamiku pegawai negeri. Dalam satu komplek perumahan yang katolik hanya 3 keluarga dari 64 keluarga. Namun aku tidak banyak kesulitan dalam bersosialisasi karena banyak orang yang sudah aku kenal tinggal di kampung sebelah perumahan. Di lingkungan yang baru ini, untuk kegiatan kemasyarakatan aku mengikuti kegiatan PKK, Dawis bahkan aku menjadi pangurus dan ketua Dawis dan untuk kegiatan yang bersifat gerejani, aku mengikuti koor, rosario, sembahyangan, dan pertemuan ibu-ibu lingkungan. Sekali lagi aku berpikir bahwa dengan ikut pertemuan ibu- ibu lingkungan aku telah menjadi anggota Wanita Katolik Republik Indonesia. Sampai suatu saat aku bertemu dengan ibu Broto yang merupakan aktivis WKRI  di ranting kecamatan Gayamsari. Pada pertemuan itu beliau minta agar aku menjadi anggota WKRI. Menurut beliau, saat itu WKRI ranting kecamatan Gayamsari sangat memprihatinkan karena anggotanya mulai menyusut dan sudah tua-tua maka perlu adanya regenerasi (Inilah keprihatinan seorang ketua). Saat itulah aku menjadi tahu bahwa mengikuti pertemuan ibu-ibu lingkungan bukan berarti secara otomatis menjadi anggota WKRI. Jadi pertemuan atau sarasehan yang aku ikuti bersama-sama ibu-ibu katolik di lingkungan berbeda dengan WKRI. Setelah aku mengetahui, jujur saja saat itu aku juga belum tertarik untuk menjadi anggota WKRI terlebih-lebih  ketika aku bertanya pada ibu-ibu di lingkunganku tidak ada yang mengikuti WKRI karena mereka punya persepsi bahwa WKRI adalah organisasi politik serta adanya larangan mengikuti WKRI dari tokoh ibu lingkungan pendahulu. Maka dengan mengatakan aku sibuk memberi les, sibuk kegiatan sekolah dan berbagai cara lagi aku menolak secara halus ajakan itu.

Tahun demi tahun berlalu, suatu saat di tahun 2007 Bu Broto yang tak kenal menyerah memberiku undangan pada ibu-ibu diantaranya aku untuk mengikuti pertemuan WKRI. Aku sendiri tidak tahu saat itu, yang semula aku tidak tertarik sedikitpun aku ingin menanggapi undangan itu. Aku berpikir tidak ada salahnya aku mencoba untuk mengetahui lebih jauh tentang WKRI, kata batinku dan aku berpikir aku akan bisa berkarya di WKRI. Ternyata dalam pertemuan itu  beberapa ibu yang masih muda juga hadir. Dan yang membuat kami terkejut Bu Broto akan mengadakan regenerasi pengurus. Di pertemuan itu beliau bersaksi dan mengatakan terharu sampai menangis, menurut beliau pada saat mengikuti misa PadaMu Negeri di Katedral yang diselenggarakan oleh WKRI beliau secara khusus berdoa dan mohon untuk perkembangan WKRI di kecamatan Gayamsari. Tuhan menjawab kerinduannya. Undangan yang disebarkan mendapat tanggapan dari ibu-ibu dan saat itu yang hadir sekitar 20 ibu. Deus Provodebit yang artinya Tuhan menyelenggarakan.

Dari pertemuan itu pada akhirnya terbentuklah kepengurusan periode 2007-2010 dan salah satu pengurusnya adalah aku. Aku terpilih karena mereka menganggap aku mampu, mereka melihat kegiatan yang sudah aku lakukan selama aku remaja dan karena profesiku seorang guru. Aku menolak. Alasanku karena aku baru sekali mengikuti WKRI dan ingin mempelajari lebih dulu tentang WKRI. Namun alasanku tak kuat untuk menolak tugas tersebut, karena ibu-ibu yang hadir saat itu 90 ℅ juga baru dan juga masih belum kenal betul dengan WKRI. Barangkali ini memang sudah kehendak Tuhan. Akhirnya aku menerima tugas itu.  “Tuhan bila memang ini menjadi kehandakMu terjadilah padaku, aku tahu Engkau sendiri yang akan berkarya pada diriku” doaku dalam hati.  Maka untuk persiapan pelantikan pengurus, sungguh banyak yang harus aku persiapkan dari acara pelantikan pengurus sampai membuat seragam WKRI, meskipun hari sudah dekat. Namun aku merasa bahwa Tuhan sungguh baik karena Tuhan selalu memberi kemudahan sehingga persiapan pelantikan dapat kami siapkan dengan baik. Aku menyebutkan kami karena semua anggota terlibat dalam persiapan pelantikan ini.  Tibalah hari pelantikan itu aku mengenakan seragam biru-biru lengkap dengan blaser. Kulihat dicermin aku terkejut dan aku merasa ternyata  penampilanku saat itu luar biasa. Mulai saat itulah ada perasaan aneh dalam benakku. Terlebih ketika aku sampai di gereja ST. Paulus Sendangguwo Semarang di mana akan dilaksanakan pelantikan. Di sana telah berkumpul ibu-ibu dengan berseragam biru-biru. Menurutku itu sesuatu yang sangat membanggakan. Apakah ini pertanda aku mulai tertarik dengan WKRI ?

Setelah pelantikan dan resmi menjadi anggota WKRI , aku semakin tahu ternyata banyak hal yang telah dilakukan WKRI dari kegiatan gerejani sampai kegiatan  kemasyarakatan. Hal ini jarang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang lain. Maka WKRI  merupakan wadah wanita katolik yang dapat mencerminkan wanita yang lengkap, baik sebagai istri, ibu bagi anak-anak maupun sebagai wanita energik yang mengabdi pada masyarakat. Bahkan WKRI merupakan organisasi yang terbuka karena mampu bersinergi dengan organisasi-organisasi lain yang ada di pemerintahan. Kini aku menjadi paham dan lebih jelas bahwa WKRI bukanlah organisasi politik seperti yang diketahui ibu-ibu di lingkunganku, tetapi WKRI merupakan organisasi sosial kemasyarakatan. WKRI ternyata mengakar jauh sampai ranting-ranting paroki dari Sabang hingga Merauke. WKRI kini menapaki usia yang ke 87 tahun, bukan usia yang muda namun dari segi pengalaman melewati kehidupan , kebijaksanaan dan kemampuan ekonomi yang tak dimiliki anggota organisasi masyarakat (ormas) lain. Bahkan dari segi Fisik (tenaga) WKRI tak kalah di banding dengan orang-orang muda anggota organisasi masyarakat lain. WKRI tidak menjalankan politik praktis, WKRI lebih mengedepankan politik kemanusiaan, memperjuangkan keharmonisan rumah tangga, pemberdayaan ekonomi perempuan, hingga tugas karitatif menolong korban bencana, kerja bakti tidak kalah penting dibanding berdebat di rumah wakil rakyat seperti yang marak akhir-akhir ini.

Tak terasa 1 periode kepengurusan telah ku lalui tentu saja dengan banyak kegiatan dari mulai kegiatan yang diadakan ranting yaitu pleno ranting, penanaman seribu pohon di kecamatan, pemantauan gizi buruk, pelatihan-pelatihan dan kerja bakti  sampai kegiatan yang dilaksanakan cabang diantaranya pleno cabang, karya bakti, misa padaMu Negeri, anjangsana, lomba-lomba, menolong korban bencana alam dan masih banyak lagi kegiatan yang bisa aku ikuti yang dapat mengobati kerinduanku untuk bisa berbagi pada sesama tidak hanya di lingkungan gereja tetapi juga di lingkungan masyarakat

Untuk kepengurusan periode 2010-2013 ini ada sesuatu dalam hatiku suatu keinginan yang mendalam untuk lebih aktif dan keinginan untuk berbagi pengalamanku ini ke banyak orang terutama di lingkunganku tinggal sehingga akan lebih banyak lagi yang akan tertarik untuk ikut bergabung di WKRI. Apakah ini suatu pertanda bahwa aku memiliki rasa kebanggaan tersendiri terhadap WKRI ?

Terima kasih WKRI yang telah membuka wawasan ku dan memberi tempat aku untuk mendarmabaktikan hidup ku, sebagai ungkapan syukurku atas segala rahmat dan karunia yang telah Tuhan berikan padaku dan keluargaku. Semoga dengan kehadiran WKRI mampu menghadirkan gereja di tengah-tengah keluarga-keluarga katolik dan masyarakat yang sangat merindukan kehadiran Sang Mesias sebagai pembawa pembaharuan bagi dunia.

Untuk WKRI Selamat merayakan ulang tahun yang ke 87. Di usia yang sudah tidak muda lagi WKRI layak diapresiasikan sebagai Organisasi masyarakat katolik yang tetap eksis berkiprah melewati aneka jaman dan beragam rezim.,  dan yang lebih penting, bukan kesombongan dan arogansi yang ada namun memang perlu adanya refleksi sekaligus kritik diri bagi WKRI. Sehingga WKRI sukses melewati waktu dan perubahan.

Proficiat

Semarang, 5 Juni 2011

V. Retno Yuliani

Semarang, 10 Juli 1967

Jl. Prasetya Indah V/20 Semarang

Ranting Gayamsari

JUARA   III  LOMBA MENULIS  ARTIKEL

 

AKU BANGGA MENJADI ANGGOTA

WANITA KATHOLIK REPUBLIK INDONESIA

 

Berulangkali Ibu Yayuk berusaha membujuk aku untuk ikut rapat WK. Tapi berulangkali pula kujawab dengan jawaban klise. Seperti siang tadi, ketika selesai Perayaan Ekaristi Ibu Yayuk kembali mendekatiku.

” Bagaimana, bu .Bisa ikut ? Habis Misa ini ada rapat WK, lho ”

” Duh, maaf , Bu Yayuk.  Bapaknya anak-anak ke luar kota. Jadi anak-anak tidak ada yang menjaga. Kapan-kapan saja, Bu. Kalau pas bapaknya anak-anak di rumah.”

”Baik, Bu. Sungguh , lho ya ! Kapan-kapan janjinya saya tagih !” jawab Bu Yayuk sambil tersenyum.

Begitulah, selalu saja kucari-cari alasan untuk dapat menghindar dari keterlibatan di WK. Sebenarnya sudah lama aku mengetahui keberadaan Wanita Katholik Republik Indonesia di Gereja Katholik. Namun, tidak ada ketertarikan dengan yang namanya Wanita Katholik Republik Indonesia. Karena menurut pandanganku oraganisasi yang satu ini berbau politik ( meski sebenarnya tidak, itu kutahu setelah mengenal lebih dalam apa itu Wanita katolik Republik Indonesia ). Aku sebenarnya, pekewuh terhadap Ibu Yayuk dan beberapa ibu lain yang dengan sabar dan tanpa henti berusaha membujuk aku untuk ikut aktif di kegiatan WK.

” Panjenengan itu dulu waktu mudanya kan ya aktif di gereja, tho ?” kata Bu Palupi suatu hari ketika bertemu di acara doa lingkungan yang berusaha mengingatkanku.. ” Ya, betul, Bu tapi kegiatan saya dulu di Legio Maria kan kegiatan kerasulan, kemudian di KKMK itu kan kegiatan kumpul-kumpul anak muda khususnya karyawan muda katholik.. Tapi, kalau WKRI kok kayaknya gimanaaa… gitu, lho”.

”Gimana apanya, sih Bu,” celetuk Bu Prapti yang duduk di sebelah Bu Palupi.

”Ya… gimana, ya”.

Cukup sulit untuk menjelaskan kepada mereka. Rasanya, masih kurang sreg saja. Walau kuakui kadang aku ingin kembali aktif di kegiatan gereja , seperti dulu sebelum menikah. Setelah menikah, memang aku berhenti total dari kegiatan di gereja. Paling-paling Misa Lingkungan itupun jarang  kuikuti. Biasa, alasan klise. Repot urus anak, anak masih kecil , menemani anak belajar di rumah dsb..dsb….

Sore itu, sepulang dari kantor suamiku mengabarkan bahwa ia mendapat jatah kredit rumah .

”Ah, yang betul Pa !” seruku girang. Betapa tidak, Sudah lama aku mengharapkan dapat segera pindah rumah, karena rumah yang kami tempati sering dilanda banjir bila hujan turun.

”Ya, betul dong, Ma. Masa bohong !”

Beberapa bulan kemudian, kami akhirnya benar-benar  pindah rumah. Tempat tinggal kami yang baru terletak di pinggir kota Semarang. Meski sangat jauh dari kota, namun kehidupan yang sederhana dan suasana yang nyaman membuatku cukup krasan. Penduduk kampung di sekitar perumahan kami, maupun warga katholik nya ramah-ramah. Sungguh, ciri khas pedesaan !

Suatu hari ketika keluar dari Gereja, selesai mengikuti Perayaan Ekaristi, aku melihat beberapa ibu mengenakan seraham biru ”benhur”. Aku terkesima ! Lho, ternyata di gereja kecil seperti di sini pun ada WKRI juga ? Entah, tapi hatiku merasa tergelitik. Di satu sisi aku ingin terlibat di dalamnya, tapi di sisi lain ada rasa enggan. Tapi, ya sudahlah. Waktu itu aku belum terlalu mengenal salah satu ibu dari anggota WKRI di gereja kami.

”Bu Thomas, nanti ada Misa Arwah di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal yang diadakan oleh WKRI, bisa datang ya Bu ?” kata Bu Santo suatu hari. Bu Santo adalah salah satu pengurus WKRI di gereja kami dan satu lingkungan denganku.

”Jam berapa, ya Bu ?”

”Jam 4 sore, kumpul di Gereja. Nanti berangkat sama-sama. Mulainya jam 5, kok”

”Baik, Bu. Saya usahakan”, jawabku  Yah, aku akan berusaha agar dapat ikut. Kendati pada waktu itu aku belum tercatat sebagai anggota WKRI

Kamis, tanggal 24 Juni. Hari yang kutunggu-tunggu. Jam 3 sore, aku sudah siap. Setelah berpesan macam-macam kepada anakku. Aku pun bergegas berangkat ke gereja.

Sesampai di gereja, sudah ada dua orang ibu yang menunggu. Wah, lumayan ada teman, pikirku. Tunggu punya tunggu. Sudah setengah jam mobil yang akan menjemput kami belum juga kelihatan. Kami bertiga mulai cemas. Sepeda motor cuma satu. Mau boncengan bertiga, tidak mungkin, kan ?  Akhirnya, aku berinisiatif mendatangi rumah Bu Santo, yang kebetulan dekat Gereja. Beliau memang tidak ikut sore itu, karena ada keperluan keluarga yang tidak bisa ditinggal..

” Bu, bagaimana ini sudah hampir pukul empat kok belum juga datang ?’ kataku kebingungan.

” Ya, Tuhan !” seru Bu Santo tak kalah kagetnya. Segera, dia mengambil HP, berusaha menghubungi Ibu Hartoyo, Tapi, tak aktif. Coba lagi menghubungi Bu Frans, sama saja. Yang terdengar hanya suara operator Nomor yang anda tuju sedang dalam perbaikan.

”Ya, sudah Bu. Kami pulang saja. Mau berangkat, pasti juga terlambat”

”Duh, maaf ya Bu. Nanti, saya tanya teman-teman. Kok bisa seperti ini” kata Bu Santo dengan nada menyesal.

”Tidak, apa-apa,Bu. Tenang saja.”

Akhirnya, kami bertiga pulang ke rumah masing-masing. Dalam hati aku agak jengkel. Dan sempat bertanya dalam hati, apa memang WKRI bukan tempatku ? Tapi, cepat-cepat kuusir suara itu. Ya, mungkin belum waktunya saja, kataku dalam hati menghibur diri.

Seminggu kemudian, sepulangku dari kerja, aku dikejutkan dengan adanya secarik undangan tergeletak di bawah pintu dengan kop surat Wanita Katholik Republik Indonesia Ranting Mijen. Undangan rapat WKRI Ranting Mijen.Di alamat tujuan tertera namaku Ibu Thomas. Undangan rapat ? Ah, inikah jawaban Tuhan atas kerinduan hatiku untuk kembali melayani Dia ? tanyaku dalam hati. Ada suara dalam hatiku, bahwa kali ini aku tidak boleh mengelak lagi dengan alasan-alasan klise seperti dulu lagi. Karena ku pikir anakku sudah cukup besar, dan sudah bisa ditinggal sendiri.

Dalam rapat itulah awal keterlibatanku sebagai anggota dalam kegiatan WKRI. Pertemuan setiap bulan mulai kuikuti, hingga suatu hari ….

”Bu, panjenengan membantu saya dalam kepengurusan, ya”, kata Bu Istyowai suatu hari ketika kami bertemu selesai Perayaan Ekaristi hari Minggu.

”Saya, Bu ?” jawabku terkejut. ”Saya kan orang baru di WKRI dan belum mengenal secara mendalam tentang WKRI, Bu” kataku lagi agak heran dan mencoba memberi alasan.

”Tidak apa-apa, Bu. Saya sendiri juga orang baru di WKRI” kata Bu Istyowai.

Memang Bu Istyowai baru saja terpilih sebagai Ketua WKRI Ranting Mijen yang baru menggantikan Ibu Sardjito.

”Nanti kita belajar bersama, sambil jalan,” lanjutnya lagi setengah membujukku.

”Baiklah, Bu kalau begitu”, jawabku dengan rasa kurang percaya, heran dan perasaan cemas menyelimuti hatiku.  Campur aduk rasanya !  Dalam hati aku bertanya, bagaimana mungkin ini terjadi, sedang keterlibatanku dalam WKRI bagaikan seorang bayi yang baru belajar berjalan ? Namun, dalam iman aku mencoba meneladan Bunda Maria dengan berkata ”Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut sabda-Mu”. Ya … bersama Bunda Maria aku berjalan dalam iman.

Rapat demi rapat, mulai dari rapat ranting hingga rapat pleno cabang dan mengikuti kegiatan demi kegiatan yang diselenggarakan oleh WKRI cabang mulai kujalani.

Aku menyadari kendati keterlibatanku di WKRI masih seumur jagung namun aku terus berusaha untuk semakin mengenal dan menggali lebih dalam apa itu Wanita Katholik Republik Indonesia dengan membaca di internet, bagaimana sejarah berdirinya WKRI, visi-misi dan kiprahnya selama ini bagi bangsa, negara dan Gereja. Benar kata pepatah yang mengatakan ”Tak kenal, maka tak sayang”. Ternyata WKRI tidak seperti yang kubayangkan selama ini. Banyak hal baru yang kupelajari, sedikit demi sedikit baru kupahami, apa itu WKRI. Mulai dari keterlibatannya di dunia politik hinggga dimasyarakat. Ternyata para ibu WKRI tidak sekadar berkecimpung di dunia politik  di ”atas” tapi terlebih mereka bergerak menyebar ke bawah ke aspek sosial, memperjuangkan kesetaraan dan keadilan gender dalam semua aspek kehidupan.

Suatu organisasi sosial kemasyarakatan yang benar-benar terjun langsung kemasyarakat kelas bawah, khususnya kepada kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel, siapa saja yang sungguh-sungguh membutuhkan pendampingan, pembinaan dan bantuan.

Bila kurenungkan, semuanya itu terangkum di dalam sabda Yesus ”Jadilah garam dan terang dunia”. Apakah gunanya garam bila ia menjadi tawar, selain dibuang dan diinjak-injak orang. Dan, pelita tidak ditaruh di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian, agar menerangi seisi rumah. Demikian juga hendaknya terangmu bersinar di depan orang sehingga orang yang melihat perbuatanmu yang baik akan memuliakan Bapamu di Surga. (bdk. Mat 5,13-16). Hal itu tak mungkin dilakukan oleh para ibu WKRI, bila tidak dilandasi semangat ”KASIH” dan dijiwai oleh Roh Kudus.

Kini, aku bangga mengenakan seragam biru ”benhur”. Bangga sebagai anggota dari Wanita Katholik Republik Indonesia pada umumnya. Bangga, karena dengan menjadi bagian dari Wanita Katholik Republik Indonesia aku dapat mewujudkan kerinduan hatiku dengan mengabdikan diri bagi bangsa dan negara kita tercinta ini serta Gereja Katholik  Bangga, karena bagiku dengan menjadi anggota Wanita Katholik Republik Indonesia aku dapat dan harus meneruskan amanat dari almarhum Bapak Uskup Al. Soegiyopranoto yang mengatakan ” Jadilah 100% katholik, 100% Indonesia !”

Dirgahayu Wanita Katholik Republik Indonesia !

S e l e s a i

  1. Nama lengkap penulis                                                   :  ML. Sylvia Kurniawati
  2. Tempat/tanggal lahir                                                      :  Semarang, 16 Oktober 1962
  3. Alamat                                                                                  :  Perum. PIKA B.4, RT.3 / RW 1

Tambangan – Mijen , Semarang

  1. Anggota WKRI Wilayah kerja/Ranting     :  Mijen

PERINGATAN  HUT KE 464 KOTA SEMARANG

MISA SYUKUR.

Sore tanggal 12 Mei 2011 pukul 16.30 WIB gedung Balai Kota Semarang mulai ramai dikunjungi ibu-ibu yang sebagian besar berseragam biru-biru, mereka akan mengikuti misa syukur Setia Bakti Kotaku, meskipun misa baru dimulai pukul 17.30 WIB.

Misa ini sebagai pelaksanaan program kerja Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang tahun 2011, dimana Wanita Katolik RI kota Semarang sadar sebagai anggota gereja dan anggota masyarakat Semarang maka sudah sepantasnya kalau ikut memperingati hari jadi kota Semarang yang ke 464, secara  tepat  jatuh pada tanggal 02 Mei 2011. Dengan mengambil tema “Raih prestasi diri cermin cerdas bangsa dan negeriku “ misa Konselebrasi  dibawah pimpinan Romo FX. Sukendar Wignyosumarto, Pr dan Romo R. Sugihartanto, Pr dan sebagai selebran utama Bapak Uskup Agung Semarang Romo J. Pujasumarta, Pr misa besar ini diselenggarakan.

Sebelum misa diawali terlebih dahulu dengan doa St. Ana yang merupakan doa utama karena merupakan pelindung Wanita Katolik RI dan dilanjutkan dengan tari Semarangan yang dibawakan oleh 4 (empat) siswi dar SMA Sedes Sapientiae.

Tepat pukul 17.45 WIB prosesi perayaan  Ekaristi  yang dipandu oleh barisan pembawa bendera merah putih yang dilakukan oleh 16           Taruna dan Taruni Pokiteknik Ilmu Pelayaran Semarang  memasuki gedung Balai Kota dengan iringan lagu “Bagimu Negeri” membuka jalannya misa. Sedang bacaan misa diambil dari Surat Santo Paulus ke dua kepada Jemaat di Korintus (2 Kor 9 : 6-15) dimana dijelaskan bahwa “Memberi dengan sukacita akan membawa berkat”dimana setiap orang harus memberi menurut kerelaan hatinya, janganlah memberi dengan segan-segan atau karena terpaksa, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati.

Sedangkan bacaan injil diambil dari injil S. Matius 15 : 32-36 yaitu “Yesus memberi  makan lima ribu orang”, bapak Uskup dalam homilinya menegaskan hendaknya paradigma berpikir kita harus dirubah yaitu menjadikan “kotaku” menjadi “kota kami” atau “kota kita semua”, sehingga dengan hanya memberi sedikit 5 (lima) roti dan 2 (dua) ekor ikan Wanita Katolik diharap Wanita Katolik RI dapat menjadi pencerah.

Dengan diiringi padua suara dari paroki gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas yang merupakan wakil dari Wanita Katolik RI Ranting Semarang Utara  dibawah pimpinan bapak Martin Runi misa berjalan dengan khusuk tetapi meriah.

Sebelum misa ditutup ucapan terima kasih disampaikan kepada semua yang mendukung jalannya misa yaitu : paramenta dan tata altar dari Ranting Semarang Selatan, pembawa doa St. Ana dari Ranting Pedurungan, pembawa bendera merah putih Taruna/Taruni Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang,  prodiakon dan putra altar serta komentator dari Ranting Gajahmungkur, persembahan dari Ranting Banyumanik, tata tertib dan petugas kolekte dari Ranting Semarang Barat, terima tamu dari Ranting Genuk, Ranting Ngaliyan dan Ranting Candisari, lektor dan petugas doa umat dari Ranting Tembalang, paduan suara dari Ranting Semarang Utara dan selanjutnya dimohon kepada semua peserta misa untuk tetap tinggal di gedung mengikuti acara Ramah Tamah.

RAMAH TAMAH

Dalam acara Ramah Tamah ini Wanita Katolik RI berbagi berkah dengan jalan memberikan bantuan pendidikan berupa alat peraga kepada SDN 01 Wonosari Kecamatan Ngaliyan terdiri dari :

1 (satu) almari besi

1 (satu) set alat peraga IPA

1 (satu) buah globe

1 (satu) peta Indonesia

1 (satu) peta dunia

1 (satu) alat peraga planet

1 (satu) alat peraga gerhana

Pemberian bantuan itu diberikan kepada SDN 01 Wonosari Ngaliyan yang dilanda banjir bandang, dimana dana dari pemberian diperoleh dari hasil jimpitan dari susuk belanja harian ibu-ibu anggota Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang.

Secara simbolis pemberian ini dilakukan oleh Bapak Walikota Semarang Drs. Sumarmo HS,Msi  kepada bapak FX. Joko Sukastomo yang mewakili SDN 01 Wonosari Ngaliyan setelah bapak Walikota  memberikan sambutan.

Dalam sambutannya Bapak Walikota mengucapkan terimakasih atas pelaksanaan misa dan acara ramah dalam memperingati hari jadi kota Semarang ini, yang baru pertama kali diadakan. Dimana Semarang mempunyai visi untuk menjadikan kota Semarang yang berbudaya dengan  Semarang Setaranya, yaitu setara diantara 14 kota Metropolitan yang ada di Indonesia, sementara ini kota Semarang urutan nomor 2 dari bawah, untuk itu mari saling membangun kota Semarang dengan saling menyanyangi tidak dengan saling menyakiti. Dengan melaksanakan 7 (tujuh) program yaitu :

  1. Pengentasan pengangguran dan kemiskinan
  2. Penanganan rob dan banjir
  3. Peningkatan infrastruktur
  4. Peningkatan pelayanan masyarakat yang pro rakyat
  5. Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan
  6. Peningkatan pendidikan
  7. Jaminan kesehatan yang layak.

Walikota percaya bahwa Wanita Katolik RI telah melaksanakan program tersebut, oleh karena itu kegiatannya akan selalu didukung.

Ramah Tamah tersebut diramaikan dengan tarian gambyong dan paduan suara yang disumbangkan oleh murid-murid SMA Don Bosko Semarang. Panitia Misa Syukur Setia Bakti Kotaku bersyukur atas jalannya Misa dan acara ramah tamah tersebut, karena dihadiri lebih dari jumlah undangan, dimana 700 kursi yang disediakan ternyata kurang.

Perempuan & Ibu


            Begitu mudah menyebut diri sebagai  perempuan,  namun sangatlah sulit menyebut diri sebagai ibu.  Sebutan perempuan berkesan sekedar jenis kelamin, sedangkan sebutan ibu lebih mendalam, bukanlah perempuan biasa, maksudnya ibu sebagai ibu bangsa, sebagai guru pertama bagi putra / putri mereka dan berkewajiban mendidik para generasi baru pemilik Negara, agar sebagai penerus bangsa, dan sebagai ibu bangsa yang harus dapat membangkitkan rasa Cinta Tanah Air dan Bangsa.

Kita wajib menghormati dan berterima kasih kepada para ibu atas segala pengurbanan dan kasih sayangnya, tetapi jasa mereka hendaknya dibalas dengan budi bakti, yaitu bakti kepada Ibu Pertiwi dengan melakukan karya-karya sosial kemanusiaan sebagai salah satu upaya untuk angkat harkat dan martabat kaum perempuan.

Sering kita jumpai keluarga-keluarga di dalam merayakan hari Ibu, bukan diperingati dengan maksud memanjakan dan memuja perempuan di wilayah domestiknya, namun mengingat pentingnya potensi seorang ibu sebagai pembentuk watak dan peletak nilai-nilai kehidupan pada generasi penerus bangsa.

Sesuai Visinya Wanita Katolik RI (sesuai cita-cita pendiri Wanita Katolik RI Ibu R.A. Soelastri) ingin mencapai kesejahteraan bersama serta tegaknya harkat martabat manusia khususnya perempuan, yang di dukung dengan adanya gerakan Emansipasi Humanis tahun 1920-an telah menyebutkan bahwa setiap orang harus dihormati sebagai Manusia, sebagai Pesona yang bukan karena ia pintar, bukan karena ia baik, atau karena hal yang lain, namun karena harkat dan martabat manusia.

Ibu R.A. Soelastri merangkul dan mengangkat harkat martabat para perempuan termarginal dengan memberdayakan mereka melalui bermacam-macam kursus keterampilan, supaya tidak terngiang anggapan yang keliru, yang mengatakan bahwa kodrat perempuan tidaklah untuk berkiprah di wilayah publik, sehingga kiprah mereka sering diidentikkan dengan semua kegiatan yang bersifat domestik rumah tangga saja, yaitu perempuan hamil, melahirkan, dan menyusui. Memang benar kodrat perempuan demikian, hingga menutup kemungkinan mereka tidak sempat berperan aktif di dunia publik, namun sekali lagi seorang ibu adalah sebagai “Pembentuk Watak dan Peletak Nilai-Nilai Kehidupan Pada Generasi Penerus Bangsa”.


Kasih Ibu


Konon, di Jepang dahulu ada kebiasaan anak terhadap orangtuanya yang mengerikan.Kebiasaan yg dimaksud adalah membuang orangtua yg sudah jompo yang sudah tidak bisa apa-apa ke hutan.Tindakan itu dilakukan karena orangtua yang

sudah jompo hanya merepotkan si anak saja. Setelah dibuang di hutan, nasib orang-orang tua yang sudah jompo tersebut tidak diketahui lagi.

Alkisah, ada seorang pemuda yang hanya tinggal mempunyai seorang ibu dan ibunya itu sudah jompo. Suatu hari ia menggendong ibunya yang sudah jompo tersebut dan hendak membuangnya ke hutan. Selama perjalanan ke hutan si ibu mematahkan setiap ranting di pinggir jalan yang mereka lalui dan menjatuhkannya ke tanah. Setelah tiba di tengah hutan, si anak menurunkan ibunya dan bergegas hendak pergi meninggalkannya. Tiba-tiba si ibu memanggilnya dan berkata : “Nak, hati-hatilah di jalan menuju ke rumah. Tetapi engkau jangan khawatir tersesat, di perjalanan tadi ibu sudah mematahkan ranting-ranting dan menjatuhkannya di jalan sebagai petunjuk engkau pulang ke rumah”. Konon, si anak menangis sejadi-jadinya menyadari begitu besar kasih ibu kepadanya dan membatalkan niatnya untuk membuang ibunya ke hutan.

Kita tidak tahu apakah kisah tersebut dongeng belaka ataukah sebuah kisah nyata. Tetapi yang penting dari kisah tersebut adalah menggambarkan betapa besar kasih ibu kepada putera-puterinya.  Adapepatah yang mengatakan Kasih  ibu  sepanjang  jalan,   tetapi  kasih  anak  sepanjang  galah”.  Kita juga mengenal lagu dengan syair Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari  dunia Baik pepatah maupun lagu tersebut, lagi-lagi, menggambarkan betapa besar cinta seorang ibu kepada putera-puterinya. Dalam kisah-kisah pewayangan sering pula digambarkan bila para panglima perang akan berangkat berperang maka dia tidak minta restu kepada ayahnya tetapi selalu “sungkem” dan minta restu kepada sang ibu.

Dengan perilaku dan budi luhur yang melekat pada ibu, tak mengherankan bila kita diIndonesiamenetapkan secara khusus tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Lewat peringatan hari ibu tersebut sebenarnya kita diajak untuk merenungkan kembali sudah cukupkah kita menghormati ibu kita masing-masing ? Jangan-jangan  kita selama ini hanya secara lahir saja menghormati ibu kita yang mungkin sudah mulai pikun tetapi di dalam batin kita bersikap seperti pemuda di Jepang yang dikisahkan di awal tulisan ini.

Khusus untuk peringatan Hari Ibu, kita diingatkan oleh kilas sejarah tentang peran ibu sebagai pejuang. Hari Ibu ditetapkan oleh Konggres Perempoean Indonesia III di Bandung. Konggres Perempoean I diadakan diYogyakartatanggal 22-25 Desember 1928 dan Konggres Perempoean II diadakan diJakartatahun 1935.  Berbeda dengan Mother’s Day di negara-negara lain. Peringatan Hari Ibu di Indonesia mengingatkan masyarakat tentang peran ibu yang menyeluruh yaitu sebagai: isteri, ibu dari anak-anak, abdi Tuhan yang Mahaesa, serta sebagai pejuang dalam merebut, mempertahankan  dan mengisi kemerdekaan. Lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya yang mengandung arti (1) Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak, (2) Kesucian, kekuatan, dan pengurbanan, dan (3) kesadaran perempoean Indonesia untuk menggalang kesatuan dan persatuan serta keikhlasan berdarmabakti dalam pembangunan bangsa.

Di sisi yang lain, bagi para ibu mestinya juga merefleksikan diri dengan bertanya sudah pantaskah perilaku saya sehingga saya pantas dihormati dan dikasihi anak-anak saya?  Sebuah kisah kembali dikutip di sini tentang apakah seorang ibu pantas dicintai atau tidak. Seorang pastor mengunjungi seorang dokter wanita yang sudah janda  yang menderita kanker stadium lanjut dan divonis hidupnya tinggal 6 bulan lagi. Ketika ditemui di rumahnya yang mewah, dokter wanita itu menangis dan berkata: “Romo tolong doakan saya bukan untuk sakit badaniah saya (kanker) tetapi lebih-lebih untuk sakit rohani saya”. Pastor itu tentu heran dan bertanya apa sakit rohani dokter wanita itu. Lalu dokter wanita itu menjawab:” Sepanjang hidup saya, saya hanya bekerja keras untuk mencari harta kekayaan dan karir. Akibatnya saya kurang menjalin relasi dengan anak-anak saya. Setelah bekerja keras dan lelah, saya sering  melampiaskan kejengkelan dan kelelahan saya dengan memarahi anak-anak saya. Kini ketika saya sakit parah tak ada anak saya yan mau menjenguk saya. Mungkin nanti saya akan meninggal dalam kesendirian”.

Terkait dengan fungsinya sebagai pejuang, sudah saatnya pula para ibu bertanya seperti yang pernah diucapkan oleh JF. Kennedy yaitu ”Apa yang bisa saya sumbangkan untuk negaraku?” dan bukannya “Apa yang sudah diberikan negara kepadaku ?”. Peluang bagi wanita katolik saat ini untuk masuk ke arena sosial dan politik makin terbuka lebar. Ibu atau wanita  (Katolik) diharapkan mau terjun ke dunia politik misalnya lewat parlemen atau partai politik. Sekarang jatah atau kuota wanita di parlemen (DPR dan DPRD) berdasar UU No. 10 / 2008 tentang Pemilu Legislatif dan UU No. 2 / Tahun 2008 tentang Partai Politik adalah sebesar 30 persen dari seluruh anggota DPR atau DPRD. Ini sebuah kesempatan yang besar. Dengan terjun ke dunia politik, kesan bahwa di berbagai acara atau organisasi sosial dan politik, wanita (katolik) hanya bagian dapur atau jadi saksi konsumsi bisa dihilangkan.

Pada bulan Desember kita juga memperingatiNatal.Adadua tokoh yang dapat dijadikan suri teladan dalam hal hubungan ibu dan anak yaitu antara Yesus dan Maria ibuNya. Maria mencintai Yesus sepenuh jiwa bahkan dengan setia mengikutinya sampai di bawah salibNya. Demikian pula Yesus sangat menghormati ibuNya yang digambarkan dengan mukjijat pesta perkawinan di Kana. Meskipun Yesus mengatakan bahwa belum saatnya Ia melakukan mukjijat sebagai tanda keAllahannya tetapi karena ibunya yang meminta dilaksanakannya juga mukjijat mengubah air menjadi anggur.

Dalam hal peran politik, Maria memang tidak terjun langsung ke dunia politik. Tetapi perannya sangat besar dalam mendukung Yesus di dunia politik dalam arti luas yaitu memperjuangkan hak mereka yang Kecil, Lemah, Miskin, dan Tersingkir dari cengkeraman mereka yang kuat dan kuasa baik secara kenegaraan (Kaisar, pemungut cukai) maupun secara keagamaan (kaum Farisi dan para imam agung) sampai wafatNya di kayu salib.


Pesan – Pesan Hari 1bu


1.    Peringatan hari Ibu sebagai hari kebangkitan perempuanIndonesia.

2.    Menempatkan posisi kaum perempuan sesuai hak asasi perempuan yang merupakan bagian integral dari hak asasi manusia yang bebas diskriminasi dan anti kekerasan.

3.    Menjunjung harkat dan martabat perempuanIndonesiasebagai Ibu Bangsa.

4.    Menyatakan kesetaraan dan keadilan gender dalam segenap aspek pembangunan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

5.    Menjadikan teladan bagi generasi penerus bangsa terus berprestasi serta bebas dari bahaya pornografi dan pornoaksi.

6.    Meningkatkan peran perempuanIndonesiadalam publik bukan hanya peran domestik dalam proses pembentukan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

7.    Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran hukum kaum perempuanIndonesiauntuk lebih maju berkiprah dalam bidang ekonomi, politik dan sosial serta lainnya.  Bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

 


Misa Akhir Tahun

 

            Kamis sore, tanggal 25 November 2010 suasana Gereja St. Paulus Stasi Sampangan tidak seperti biasanya, nuansa biru memenuhi gereja tersebut, yah ….. saat itu sedang berlangsung misa Akhir Tahun dalam kalender kerja Wanita Katolik R.I. Cabang Kota Semarang, sekaligus merupakan Misa Arwah karena masih dalam kisaran bulan November.

Dalam misa tersebut umat dapat mengajukan ujub-ujub untuk mendoakan arwah yang ditulis pada salib kecil dari kertas yang dipersembahkan bersamaan dalam ritus persembahan.

Dengan mengambil tema “Allah Yang Berbelas Kasih” dan bacaan Ayub 6 : 1-10 serta Injil Mateus 9 : 9-13 misa dipimpin oleh Romo Athanasius Kristiono Purwadi, SJ berjalan dengan khidmat. Dalam kotbahnya romo menyata-kan bahwa selama 15 tahun menjadi romo baru kali ini mempersembahkan misa untuk Wanita Katolik R.I, sungguh luar biasa ditengah-tengah kaum ibu, meskipun romo mengakui bahwa ibunya juga seorang aktifis Wanita Katolik R.I. tetapi selama ini ia tidak mengetahui apa yang dikerjakan ibunya dalam kegiatan Wanita Katolik R.I. tersebut.

Menyinggung soal tema “ Allah Yang Berbelas Kasih” Romo menjelaskan bahwa semua manusia  mempunyai pengalaman tentang Allah Yang berbelas Kasih. Belas kasih menyiratkan sesuatu yang kurang maka belas kasih itu perlu diberikan dan belas kasih itu sifatnya universal, sedang apa yang menjadi inti berbelas kasih dari Allah dapat dilihat dari dua bacaan di atas, dimana dinyatakan bahwa Ayub dan Mateus sebelumnya merupakan sosok yang mapan, terutama dalam bidang ekonomi, tetapi dalam mengikuti Allah / Yesus terjadi kegoncangan, berbagai musibah menimpanya, pada awalnya Ayub dan Mateus juga protes,  tetapi karena ketaatannya, Ayub dan Mateus semakin peka terhadap perubahan yang menimpanya, mereka bisa menerima perubahan itu, iman mereka makin kuat, dan mereka selalu ingin adanya perubahan. Maka romo berharap hendaklah WanitaKatolikR.I. bisa meniru semangat Ayub dan Mateus, harus berani berubah demi kemajuan dan berani menghadapi segala tantangan.

Wanita Katolik R.I. Ranting Kecamatan Gajahmungkur sebagai pelaksana Misa akhir tahun ini memberikan warna yang berbeda, yaitu dengan mengadakan doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi sebelum misa, dimana selama ini yang selalu dilakukan adalah Doa Rosario Hidup.

Partisipasi ibu-ibu dan umat Stasi Sampangan juga mewarnai jalannya misa, mereka terlibat dalam doa Koronka kepada Kerahiman Ilahi, Pro Diakon, Putra Altar, tata tertib, Lektor dan membantu menyediakan minuman mineral bagi peserta misa. Untuk ini semua kami ucapkan terima kasih kepada umat di Stasi Sampangan.

Didukung oleh paduan suara campuran Bapak, Ibu, Mudika dari Wilayah Karangrejo Gajahmungkur yang apik makin semaraklah misa akhir tahun dilaksanakan.

Diakhir Misa, Romo dengan disaksikan oleh umat membakar ujub-ujub di dalam pot sehingga makin lengkaplah jalannya misa tersebut.

Semoga dengan misa akhir tahun kerja 2010 ini dapat mengantar Wanita Katolik R.I. Cabang Kota Semaranguntuk mengadakan perubahan kearah yang lebih maju  dan berani menghadapi tantangan, dimana dalam Rapat Kerja 28 November 2010, dapat menjawab tantangan tersebut dalam pembuatan Program Kerja tahun 2011.  Amin.


PERAN WANITA KATOLIK

REPUBLIK INDONESIA

Oleh : Br. Frans D. Atmadja, S.Pd., M.Pd


Wanita atau perempuan, merupakan salah satu  kunci keberhasilan Gereja dalam usaha pewartaan iman. Dalam sejarah Gereja sangat nampak jelas peranan para Wanita saat itu, dalam rangkaian karya Tuhan Yesus, di mana Tuhan Yesus berada dan berkarya sangat dipengaruhi oleh peranan wanita. Mulai dari peranan Maria ibu Yesus sampai dengan “maria-maria” yang lain. Dalam era sekarang peranan para Wanita tersebut telah tergenerasikan oleh peran dari Wanita Katolik yang dalam hal ini adalah sebuah organisasi Wanita Katolik RepublikIndonesia. Meskipun peran mereka tidak seperti jaman Yesus, tetapi dalam beberapa hal apa yang dikerjakan sangatlah mirip dengan peran para “wanita” saat itu. Beda jaman beda peranan, tetapi tetap mengacu kepada satu tujuan, yaitu agar tercapainya kehidupan yang harmonis baik dalam karya maupun dalam keluarga di antara warga-nya. Menurut apa yang saya tahu dan rasakan, peran Wanita Katolik saat ini adalah sangat strategis dalam upaya bagaimana meningkatkan kehidupan warganya dengan mengacu pada tiga pilar utama, yakni berkeluarga, bergereja dan bernegara.

Sejauh saya mengenal organisasi Wanita Katolik Cabang Semarang, dengan berbagai macam kegiatan mereka bahwa keberadaan Wanita Katolik RI Cab.Semarang, sudah terbukti eksistensinya. Wanita Katolik RI Cabang Semarang, telah memberikan sumbangsih yang besar bagi bangsa, Gereja  dan negara.  Terlepas dari semua itu, saya sangat berharap mudah-mudahan salah satu Organisasi Gereja  ini ditangani dengan  keseriusan untuk menata organisasi sehingga kelangsungan hidup organisasi dapat terjaga dan terpelihara. Wanita Katolik RI Cab. Semarang, hendaknya mampu mengubah pandangan umum bahwa “kiprah seorang wanita selama ini hanya dikenal sebagai pendamping suami dalam menjalankan sebagai tugas rutin di dalam rumah tangga”, menjadi wanita yang berpotensi dan sarana terjadinya perubahan taraf hidup yang lebih baik, mandiri, dan berdaya guna tinggi dalam keluarga. Hal tersebut, dapat diwujudnyatakan dalam bentuk tugas yang mulia bagi seorang perempuan / wanita dalam merawat generasi penerus bangsa. Menyinggung tentang wanita karir, mereka harus dibekali dengan semangat profesionalitas. Seorang wanita, juga harus dapat mendukung suami serta membina keutuhan rumah tangga, selain ikut terlibat langsung dalam kiprah organisasi WanitaKatolikRI.

Apa yang dapat saya lakukan ?

Saya, secara structural memang termasuk salah satu bagian orang yang berada di luar struktur Organisasi WanitaKatolikRI. Meskipun demikan saya sangat menaruh penghargaan dan perhatian yang sangat tinggi terhadap apa yang telah diperbuat dan dikerjakan. Dalam segala usaha WanitaKatolikRIkhususnya cabangSemarang, saya melihat bahwa keterlibatan dan peranannya dalam menggereja sangatlah tinggi, dari apa yang direncanakan dan dilaksanakan semua mengacu kepada usaha peningkatan kesejahteraan bagi warga  masyarakat, gereja dan Negara. Selain itu saya ikut merasakan betapa besarnya peranan Wanita Katolik RI cabang Semarang terhadap regenerasi menggereja, meskipun itu bukan merupakan tujuan utama, ini terbukati dari segi pelayanan Wanita Katolik RI cabang Semarang sangat bersifat umum.

Melihat kenyataan yang ada, bahwa anggota dari Wanita Katolik RI cabang Semarang, adalah seorang ibu, maka dalam hal-hal tertentu pasti ada saja kekurangmampuan untuk dikerjakan, yang bagaimanapun juga adalah ibu-ibu maka menjadi kewajiban saya untuk sedapat mungkin memberikan bantuan yang saya bisa kerjakan. Misalnya memberi kesempatan WanitaKatolikRIcabangSemaranguntuk menggunakan fasilitas yang ada, jika mereka ingin mengadakan kegiatan-kegiatan, memberi dukungan serta mengaprisiasi dengan apa yang mereka kerjakan.

Harapan dan saran

Sebagai orang yang di luar struktur dan merasakan dampak positif dari kegiatan-kegiatan  Wanita Katolik RI Cabang Semarang, sangat berharap agar usaha regenerasi dalam tubuh organisasi mesti menjadi prioritas, ini bukan berarti bahwa yang lama tidak terpakai lagi, tetapi yang bagaimana pun kita orang terbatas, baik waktu dan kesempatan maupun kemampuan secara fisik. Maka regenerasi sangat penting. Harapan kedua adalah meningkatkan komunikasi antar warga, yang saya maksud adalah membangun komunikasi secara lebih luas jangan terbatasi oleh golongan tertentu, agama tertentu dan suku tertentu, apa yang sudah ada akan lebih baik jika senantiasa ditingkatkan. Yang ketiga adalah senantiasa mengadakan evaluasi terhadap program pelayanan, ini akan menjadi bekal dan berdaya guna dalam melangkah ke depan, sehingga apa yang dikerjakan akan selalu “membumi” artinya, yang dilakukan memang menjadi kerinduan bagi masyarakat, bukan apa yang  Wanita Katolik RI Cabang Semarang, kehendaki melainkan apa yang masyarakat perlukan.

Sukses untuk  Wanita Katolik RI Cabang Kota Semarang, selamat berkarya,

Tuhan memberkati.  Amin

RAPAT ANGGOTA…RAPAT ANGGOTA…!

PELANTIKAN … PELANTIKAN … !!!

Tanpa terasa, purna sudah pendampingan Rapat Anggota dan Pelantikan Wanita Katolik R.I. Dewan Pengurus Ranting sekotaSemarang, yang merupakan fokus utama program kerja Cabang tahun 2010.  Pendampingan dimulai dari Ranting Kecamatan Semarang Barat yang mengadakan Rapat Anggota pada tanggal 21 April 2010 dan diakhiri dengan  Ranting kecamatan Semarang Timur yang mengadakan pelantikan pada tanggal 11 Desember 2010.

Dalam proses pendampingan, berbagai hal / kisah menarik muncul yang seringkali membuat repot pengurus Cabang namun sekaligus juga mendewasakan / menyolidkan kerjasama antar pengurus. Diantaranya : jadwal Rapat Anggota dan Pelantikan yang dobel ( bersamaan )  bahkan triple, ada Ranting yang kurang paham akan urutan / proses  Rapat Anggota maupun pelantikan, ada Ranting yang kesulitan mencari Ketua yang baru, terbatasnya Pengurus Cabang yang bisa mendampingi, pengetikan nama-nama Pengurus pada Surat Keputusan yang kurang lengkap, belum lagi kendala-kendala teknis lainnya. Namun semuanya itu tidak menyurutkan langkah dan semangat para pengurus Ranting maupun Cabang untuk tetap melaksanakannya.

Dari enambelas Ranting yang ada dikotaSemarang, tiga Ranting belum dan tidak melaksanakan Rapat Anggota. Diantaranya Ranting Semarang Tengah, karena periode kepengurusan baru berakhir tahun 2011, Ranting Semarang Timur kepengurusan periode 2010 – 2013 ditetapkan melalui forum musyawarah saat Rapat Pleno Ranting. Sedangkan Ranting Gunung Pati merupakan Ranting baru, yang kepengurusannya dilantik pada 24 Juni 2010 dan terbentuknya berdasarkan hasil wawanhati pengurus pada tanggal 16 Mei 2010.

Kami ucapkan profisiat kepada semua Ketua dan Dewan Pengurus Ranting yang baru. Selamat bekerja untuk melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan Ranting, semoga semangat kebersamaan dan gairah kerja tetap terjaga. Dan akhirnya, semoga kepengurusan yang baru semakin meningkatkan citra WanitaKatolikRIdan membuat WanitaKatolikRIsemakin berkibar.

Tuhan  memberkati  !!!

                        Desember  2010

C B A

Leave a response and help improve reader response. All your responses matter, so say whatever you want. But please refrain from spamming and shameless plugs, as well as excessive use of vulgar language.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.